Departemen Proteksi Tanaman IPB University Dalami Teknik Analisis Multilokus bersama Barantin
Permasalahan penyakit tumbuhan dari kelompok cendawan masih mendominasi faktor pembatas produktivitas pangan nasional. Infeksi mikrob yang lebih dikenal dengan istilah fungi ini berkembang optimal di daerah tropis dan dapat menurunkan hasil panen secara drastis, bahkan dalam kasus tertentu menyebabkan kegagalan panen total.
Mengingat dampak ekonominya yang besar, akurasi identifikasi penyebab penyakit menjadi tahap paling kritis dalam seluruh rangkaian strategi pengendalian.
Menyadari hal tersebut, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB University melalui mata kuliah Teknik Mutakhir dalam Fitopatologi menggelar Guest Lecture ke-39.
Kegiatan menghadirkan Dr Nurholis, staf Badan Karantina Indonesia (Barantin) yang memberikan pendalaman kepada mahasiswa mengenai analisis multilokus dalam identifikasi cendawan, khususnya yang membentuk kompleks spesies (species complex).
Multilocus sequence analysis (MLSA) adalah metode identifikasi berbasis analisis urutan DNA dari beberapa gen sekaligus. Dr Nurholis menjelaskan, metode ini memberikan hasil yang jauh lebih akurat dibandingkan identifikasi konvensional yang hanya melihat karakter morfologi.
“Khususnya bagi Badan Karantina Indonesia, MLSA diandalkan sebagai instrumen deteksi cepat dan akurat di gerbang perbatasan guna memastikan komoditas ekspor-impor bebas dari invasi patogen berbahaya yang dapat mengancam ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Selain memaparkan materi, alumnus Program Studi Doktor Fitopatologi IPB University ini juga mengajarkan langsung teknik identifikasi presisi menggunakan Colletotrichum spp. pada komoditas jeruk yang memiliki nilai ekonomi tinggi dalam perdagangan internasional. Pelatihan ini diikuti dengan antusias oleh mahasiswa magister hingga doktor di Departemen Proteksi Tanaman.
“Kolaborasi antara Program Studi Magister Pengendalian Hama Terpadu dan Badan Karantina Indonesia ini menegaskan pentingnya kerja sama antarinstitusi untuk berbagi pendekatan yang ideal dalam identifikasi patogen,” ujar Prof Tri Asmira Damayanti, pengampu mata kuliah tersebut.
Penguasaan keterampilan ini menjadi poin kritis bagi mahasiswa agar siap menyelesaikan tantangan proteksi tanaman di kancah global selepas lulus nanti.
Guest Lecture menjadi program rutin yang diselenggarakan Departemen Proteksi Tanaman selama lima tahun terakhir. Melalui kegiatan ini, diharapkan wawasan mahasiswa semakin dalam dan dapat menjaring potensi kolaborasi riset strategis di masa mendatang. (*/Rz)
