Dekan Faperta IPB University Wakili Indonesia di Forum APFSD, Paparkan Model Pertanian Perkotaan Sirkular
Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) IPB University, Prof Suryo Wiyono, mewakili Indonesia berpartisipasi dalam diskusi internasional mengenai sistem pangan berkelanjutan pada Asia-Pacific Forum on Sustainable Development (APFSD) 2026 di Bangkok, Thailand. Prof Suryo bergabung secara online.
Dalam forum tersebut, ia memaparkan pengalaman IPB University dalam mengembangkan model pertanian perkotaan sirkular yang telah diterapkan di Kota Depok, Jawa Barat. Inisiatif tersebut memanfaatkan limbah organik perkotaan untuk diolah menjadi kompos dan input hayati (bio-inputs) untuk produksi pangan lokal.
Paparan tersebut disampaikan dalam sesi bertajuk “Feeding the Future: Integrated Food Systems for Sustainable Cities and Communities.” Kegiatan ini diselenggarakan oleh United Nations Food Systems Coordination Hub bersama Food and Agriculture Organization (FAO), Stockholm Environment Institute (SEI), Rikolto, serta Milan Urban Food Policy Pact.
Menurut Prof Suryo, pendekatan pertanian sirkular di perkotaan tidak hanya membantu meningkatkan ketersediaan pangan, tetapi juga memberikan manfaat lingkungan dan sosial bagi masyarakat kota.
“Selain meningkatkan kesehatan tanah dan ketersediaan pangan, pendekatan ini juga membantu menurunkan suhu lingkungan perkotaan melalui peningkatan vegetasi,” paparnya.
Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam implementasi model tersebut. Partisipasi komunitas dalam pengelolaan pertanian perkotaan turut memperkuat kohesi sosial sekaligus membuka peluang pendapatan baru bagi masyarakat.
Forum ini juga menyoroti tantangan besar sistem pangan di kawasan Asia dan Pasifik yang merupakan wilayah urban terbesar di dunia. Saat ini, Asia-Pasifik memiliki lebih dari 2,2 miliar penduduk perkotaan, dan jumlahnya diperkirakan meningkat hingga 50 persen pada tahun 2050.
Maria Antonia Tuazon, Senior Nutrition and Agrifood Systems Specialist dari Food FAO Regional Office for Asia and the Pacific, menyampaikan bahwa tantangan ketahanan pangan di kawasan ini masih signifikan.
“Sekitar 285 juta orang masih mengalami kekurangan pangan, hampir satu miliar orang menghadapi kerawanan pangan sedang hingga berat, dan sekitar 1,2 miliar penduduk belum mampu mengakses pola makan sehat,” ujar dia.
Sementara itu, Stefanos Fotiou, Direktur United Nations Food Systems Coordination Hub sekaligus Kepala Office of Sustainable Development Goals di FAO, menekankan pentingnya peran kota dalam transformasi sistem pangan.
“Melalui kebijakan seperti pengadaan pangan publik, program makan sekolah, pengurangan limbah pangan, serta penguatan hubungan desa–kota, pemerintah kota dapat mempercepat transformasi sistem pangan sekaligus mendukung pencapaian pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Menutup diskusi, Raja Asvanon, peneliti dari Stockholm Environment Institute sekaligus moderator sesi, menilai berbagai pengalaman yang dibagikan dalam forum tersebut menunjukkan bahwa kota-kota di kawasan Asia-Pasifik mulai mengembangkan solusi praktis yang menghubungkan sistem pangan dengan pembangunan kota, ketahanan iklim, dan kesehatan masyarakat. (*/Rz)
