Bantu Kendalikan Tekanan Darah, Minuman Fungsional Lemon-Madu Inovator IPB University Masuk 117 Inovasi Indonesia 2025

Bantu Kendalikan Tekanan Darah, Minuman Fungsional Lemon-Madu Inovator IPB University Masuk 117 Inovasi Indonesia 2025

bantu-kendalikan-tekanan-darah-minuman-fungsional-lemon-madu-inovator-ipb-university-masuk-117-inovasi-indonesia-2025.jpg
Berita / Riset dan Kepakaran

Cara terbaik dalam menjaga tekanan darah tetap stabil adalah dengan menjaga pola hidup sehat. Karena itu, pilihan makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari menjadi salah satu faktor yang menentukan. 

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Guru Besar IPB University, Prof Ahmad Sulaiman, mengembangkan minuman fungsional berbahan lemon segar dan madu lokal yang dirancang untuk membantu menjaga kestabilan tekanan darah.

Inovasi yang masuk jadi salah satu 117 Inovasi Indonesia 2025 ini berangkat dari keprihatinannya terhadap banyaknya produk minuman lemon atau madu di pasaran yang masih tinggi gula dan lebih menonjolkan rasa dibanding manfaat kesehatan.

“Sebagian besar minuman lemon atau madu yang beredar masih mengandung gula tinggi dan menggunakan perisa. Selain itu, belum banyak produk yang diformulasikan secara khusus untuk membantu menstabilkan tekanan darah,” ujarnya.

Ia menambahkan, minuman ini dirancang agar tetap dapat dikonsumsi oleh masyarakat yang perlu membatasi asupan gula, termasuk penderita diabetes. Oleh karena itu, pemilihan bahan dan formulasi produk dilakukan secara hati-hati agar tetap aman sekaligus memberikan manfaat kesehatan.

Dalam proses pengembangannya, Prof Ahmad bersama tim menerapkan perlakuan minimal terhadap bahan baku untuk menjaga kandungan bioaktif dari lemon dan madu tetap optimal.

“Kami berupaya mempertahankan komponen bioaktif dari lemon dan madu dengan perlakuan yang sangat minimal. Namun di sisi lain, aspek keamanan pangan tetap menjadi prioritas, terutama untuk mengendalikan potensi bahaya mikrobiologi,” jelasnya.

Setelah melalui proses produksi, minuman tersebut dikemas secara optimal dan disimpan pada suhu rendah guna mencegah kerusakan senyawa bioaktif yang terkandung di dalamnya. Untuk memastikan manfaatnya, tim peneliti juga melakukan berbagai pengujian ilmiah.

“Kami melakukan pengujian kandungan bioaktif, uji in silico, hingga uji praklinik dan uji klinik pada kelompok prahipertensi. Hasilnya menunjukkan adanya penurunan tekanan darah, baik sistolik maupun diastolik,” ungkapnya.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya efek sinergis dari komponen bioaktif yang terdapat pada lemon dan madu. Meski demikian, Prof Ahmad menegaskan bahwa produk ini bukan obat, melainkan minuman fungsional yang berperan sebagai pelengkap dalam menjaga kesehatan.

“Produk ini bukan obat, tetapi dapat disebut sebagai complementary alternative medicine atau CAM. Artinya, minuman ini dapat menjadi pelengkap bagi terapi hipertensi yang dianjurkan dokter,” katanya.

Karena bukan pengganti obat medis, ia menegaskan bahwa konsumsi minuman fungsional tetap harus diiringi dengan pola hidup sehat dan mengikuti anjuran tenaga medis.

Selain memberikan manfaat kesehatan, inovasi ini juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui skema hilirisasi dan pemberdayaan pelaku usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM).

“Peluang hilirisasi sangat terbuka, terutama melalui UMKM. Namun proses produksinya harus mengikuti standar cara produksi obat tradisional yang baik (CPOTB) agar dapat didaftarkan secara resmi,” tutupnya.

Melalui inovasi ini, Prof Ahmad berharap produk berbasis riset tidak hanya memberikan manfaat kesehatan bagi masyarakat, tetapi juga mendorong berkembangnya industri pangan fungsional berbasis bahan alami di Indonesia. (AS)