Bahas Astronomi Ramadan, Guru Besar IPB University Sebut Bumi Hanya Sebutir Debu di Alam Semesta
Penentuan awal bulan Hijriah, termasuk Ramadan, tidak lepas dari dinamika pergerakan tata surya yang sangat presisi namun kompleks.
Menyoroti fenomena tersebut, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof Husin Alatas, mengupas tuntas dinamika tersebut dalam Podcast Ramadan 1447 H bertajuk “Harmoni Bumi, Bulan, dan Matahari”, baru-baru ini.
Prof Husin mengawali pemaparannya dengan mengajak pendengar melihat Bumi dari perspektif kosmik. Ia menganalogikan Bumi bagaikan sebuah kuark jika dibandingkan dengan luas alam semesta teramati yang berdiameter 93 miliar tahun cahaya.
“Rasio ukuran Bumi terhadap alam semesta adalah 10⁻²⁰. Dari foto wahana antariksa Voyager pada jarak 4 miliar kilometer, Bumi hanya terlihat sebagai titik biru pucat atau The Pale Blue Dot,” ungkapnya.
Menurutnya, fakta tersebut memberikan pesan moral yang mendalam bahwa manusia sejatinya sangatlah kerdil. Namun, berkat sifat Rahman dan Rahim Tuhan, manusia tetap diberikan kondisi fisik Bumi yang ideal sebagai rumah kehidupan, lengkap dengan pelindung medan magnet dari gempuran radiasi mematikan Matahari.
Terkait penentuan waktu, pakar fisika teori ini menjelaskan fakta dinamika pergerakan Bumi dan Bulan yang melesat dengan kecepatan luar biasa. Bumi berotasi pada kecepatan 1.670 km/jam dan berevolusi pada 107.208 km/jam.
“Menariknya, kecepatan rotasi dan revolusi Bulan itu sama, yakni 1.040 km/jam. Kondisi fisis inilah yang menyebabkan kita di Bumi selalu melihat sisi permukaan Bulan yang sama,” jelas Prof Husin.
Dalam penanggalan Hijriah atau penentuan awal Ramadan, ia memaparkan bahwa siklus yang digunakan adalah periode sinodik, bukan periode sidereal.
“Periode sinodik yang memakan waktu 29,5 hari adalah waktu yang dibutuhkan Bulan untuk kembali ke fase yang sama, jika diukur berdasarkan posisi relatif Bumi dan Matahari,” terangnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa interaksi gravitasi antara Matahari, Bumi, dan Bulan membentuk sistem tiga benda (three-body system) yang sangat rumit.
Dalam ilmu fisika dan matematika, sistem ini tidak memiliki solusi eksak yang mampu memprediksi pergerakannya secara presisi sempurna tanpa batas waktu.
“Meski dinamika sistem ini sangat sulit diprediksi untuk jangka waktu yang amat panjang, pergerakannya dapat diprediksi dengan sangat akurat untuk jangka waktu pendek. Inilah yang menjadi landasan ilmiah kalender astronomi untuk penentuan awal bulan,” tegasnya.
Melalui pemaparan ini, ia berharap masyarakat dapat melihat fenomena penentuan awal Ramadan tidak sekadar sebagai rutinitas ibadah. Lebih dari itu, momentum ini adalah ruang tadabur alam yang menggabungkan sains astronomi murni dengan hikmah spiritual yang mendalam. (RHF)
