Anak dan Remaja Hadapi Tekanan dan Ancaman, Pakar IPB University Tawarkan Konsep Pembangunan Ramah Keluarga

Anak dan Remaja Hadapi Tekanan dan Ancaman, Pakar IPB University Tawarkan Konsep Pembangunan Ramah Keluarga

anak-dan-remaja-hadapi-tekanan-dan-ancaman-pakar-ipb-university-tawarkan-konsep-pembangunan-ramah-keluarga.jpg
Ilustrasi (freepik)
Berita / Riset dan Kepakaran

Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Prof Euis Sunarti, menegaskan bahwa pembangunan ramah keluarga merupakan prasyarat utama dalam mewujudkan individu berkualitas, masyarakat madani, serta bangsa yang beradab. Konsep ini menempatkan keluarga sebagai basis kebijakan lintas sektor pembangunan nasional.

Dalam program IPB Podcast di YouTube IPB TV, Prof Euis menjelaskan bahwa pembangunan ramah keluarga lahir dari perjalanan akademik panjang yang menyoroti pentingnya keluarga sebagai unit sosial terkecil.

“Idealnya, pembangunan menghasilkan keluarga berketahanan sehingga output-nya adalah keluarga sejahtera dan berkualitas. Namun, faktanya masih terdapat kesenjangan. Memang masih ada gap di situ,” katanya.

Menurutnya, berbagai tekanan seperti ekonomi, kemiskinan, dan kerentanan sosial, hingga ancaman terhadap anak dan remaja menjadi faktor laten yang memengaruhi ketahanan keluarga Indonesia.

Prof Euis menegaskan bahwa seluruh kebijakan, baik yang berlabel keluarga maupun tidak, pada akhirnya berdampak pada keluarga.

Kebijakan pajak, ketenagakerjaan, pengupahan, pendidikan, hingga industri memiliki implikasi langsung maupun tidak langsung terhadap kualitas keluarga. Karena itu, ia menekankan keutamaan integrasi kebijakan lintas sektor agar tidak saling bertentangan.

“Semua pihak harus memikirkan bahwa kebijakan dan programnya akan berdampak kepada keluarga sehingga harus mencari mana yang terbaik agar keluarga dapat menjalankan peran dan fungsinya,” jelasnya.

Ia juga menyoroti survei kesehatan terbaru yang mengungkap tingginya tingkat depresi pada remaja, namun yang mendapatkan bantuan hanya sekitar 10 persen. Kondisi ini menunjukkan perlunya intervensi yang lebih komprehensif.

Terkait implementasi, Prof Euis menyebut pembangunan ramah keluarga harus diturunkan dalam bentuk pembangunan wilayah ramah keluarga, pekerjaan ramah keluarga, dan kampung ramah keluarga.

Wilayah yang mendekatkan tempat kerja dengan rumah, sistem kerja fleksibel berbasis output, serta lingkungan sosial yang saling peduli dinilai dapat memperkuat fungsi keluarga.

Ia menekankan peran pemerintah sebagai aktor utama melalui regulasi dan koordinasi lintas kementerian. Akademisi juga berperan melalui tridarma, khususnya dalam menghasilkan rekomendasi kebijakan dan inovasi pendukung.

Prof Euis berpesan kepada generasi muda untuk menyiapkan diri melalui pencapaian kematangan fisik, mental, sosial, emosional, moral, dan spiritual sebagai bekal membangun keluarga berketahanan.

“Penuhi prestasi perkembangannya sesuai umur, lalu tingkatkan kapasitasnya. Insyaallah bisa membangun keluarga yang berketahanan,” pungkasnya. (dr)