Prof Syarifah Iis Aisyah: Mutasi Induksi Strategis Hasilkan Tanaman Hias Estetik dan Berkhasiat
Upaya pengembangan tanaman hias dan biofarmaka dinilai perlu didukung inovasi pemuliaan yang mampu meningkatkan keragaman genetik sekaligus nilai manfaatnya. Mutasi induksi menjadi salah satu pendekatan strategis untuk menghasilkan varietas unggul yang bernilai estetika dan berkhasiat bagi kesehatan.
Hal tersebut disampaikan Prof Syarifah Iis Aisyah dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University (14/2). Ia menegaskan pentingnya inovasi berbasis sains untuk mendukung industri dan kesehatan masyarakat.
“Spesialisasi keilmuan saya adalah pemuliaan mutasi induksi pada tanaman hias. Tanaman hias saat ini tidak hanya digunakan sebagai ornamental, tetapi juga karena kandungan biofarmaka di dalamnya yang bermanfaat bagi kesehatan maupun kosmetik,” ujarnya.
Ia mencontohkan marigold (Tagetes spp.) yang mengandung lutein dan zeaksantin untuk kesehatan mata dan kulit, torbangun (Coleus amboinicus) yang dapat meningkatkan kualitas air susu ibu (ASI), serta krokot (Portulaca oleracea) yang kaya antioksidan dan dimanfaatkan dalam industri kosmetik.
Guru Besar Bidang Pemuliaan Mutasi Tanaman Hias dan Herbal IPB University itu menjelaskan, mutasi alami terjadi sangat jarang sehingga diperlukan mutasi induksi menggunakan mutagen fisik seperti sinar gamma dan sinar X, maupun mutagen kimia seperti ethyl methane sulfonate (EMS) dan kolcisin.
“Pada tanaman jengger ayam (Celosia argentea), perlakuan EMS 0,5–4 persen dapat meningkatkan kandungan fenolik dan flavonoid. Sementara pada tanaman krokot, penggunaan kolcisin 0,1 persen dapat meningkatkan kandungan total fenolik dan aktivitas antioksidan hingga 3,56 kali. Antioksidan ini baik untuk pengobatan maupun pencegahan kanker,” jelasnya.
Ia menambahkan, metode mutasi induksi ini relatif lebih terjangkau dibandingkan bioteknologi dan tidak bergantung pada ketersediaan induk jantan dan betina seperti pada hibridisasi. Namun, penerapannya harus mengikuti standar keamanan ketat.
“Mutasi induksi melalui mutagen fisik maupun kimia telah terbukti efektif dalam menciptakan keragaman genetik baru pada tanaman hias tropis. Pendekatan ini penting sebagai alat strategis untuk memperluas variasi genetik, mempercepat seleksi, dan memperbaiki sifat yang diinginkan,” tuturnya.
Potensi Ekspor
Ia juga menyoroti potensi ekonomi tanaman hias. Indonesia menempati peringkat keempat dunia sebagai pengekspor tanaman hias pada 2024. Kebutuhan marigold di Bali mencapai sekitar delapan ton per hari dengan nilai ekonomi sekitar Rp200 miliar per tahun.
“Pendekatan ini menjadi langkah strategis untuk kemajuan program pemuliaan tanaman hias dan tanaman biofarmaka,” imbuhnya. (Fj)
