IPB University dan CAU Perkuat Sinergi Global melalui MoA dan Pendirian Pusat Riset Unggulan
IPB University memperkuat perannya sebagai mitra strategis global di bidang pertanian, ekologi manusia, dan pembangunan perdesaan melalui kerja sama dengan China Agriculture University (CAU).
Kedua pihak menandatangani sejumlah memorandum of agreement (MoA) dan pendirian pusat riset unggulan yang berfokus pada transformasi perdesaan Tiongkok dan kajian kawasan.
Kerja sama mencakup:
- Fakultas Ekologi Manusia IPB University dengan CAU College of International Development and Global Agriculture (CIDGA)
- Fakultas Peternakan IPB University dengan CAU College of Animal Science
- Pembukaan pusat riset unggulan ‘IPB Center of Excellence for Research on China’s Rural Transformation Studies’ dan ‘CAU Hub for Country and Region Studies in Indonesia’.
Rektor Dr Alim Setiawan Slamet menyampaikan, IPB University terus memperluas jejaring akademik internasional, termasuk dengan perguruan tinggi di Tiongkok. Jejaring ini ditunjukkan melalui kunjungan perwakilan 11 politeknik dari Guangdong Province dalam waktu dekat.
“IPB berkomitmen menjadi mitra strategis dalam pengembangan inovasi, peningkatan kapasitas, dan penguatan sumber daya manusia untuk mendukung transformasi Indonesia dan kepemimpinan Global South,” ujar
Dr Alim juga menekankan reputasi IPB University sebagai perguruan tinggi riset terkemuka dengan jumlah proyek riset pendanaan pemerintah tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
“Keunggulan IPB University di bidang pertanian dan kehutanan tercermin dari peringkat dunia 50 besar versi QS World University Rankings by Subject, serta pengakuan nasional sebagai perguruan tinggi terbaik dalam Indonesia’s SDGs Action Awards selama tiga tahun berturut-turut,” paparnya.
Lanjutnya, dorongan terhadap riset interdisipliner pun mengantarkan IPB University pada peringkat ke-60 dunia dalam Times Higher Education Interdisciplinary Rankings.
Sementara itu, Presiden CAU, Prof Sun Qixin menyampaikan apresiasi atas kunjungan pertamanya ke IPB University dan Indonesia. Ia menilai penandatanganan MoA berbasis fakultas membuka peluang kolaborasi yang lebih luas, melengkapi kesepakatan MoU yang telah ada sebelumnya.
“Kolaborasi antaruniversitas memiliki peran utama dalam menjawab tantangan global, mulai dari peningkatan kualitas hidup, inovasi pangan dan pertanian, hingga pembangunan perdesaan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Prof Sun Qixin menambahkan, hubungan ekonomi dan politik yang kuat antara Indonesia dan Tiongkok perlu diperkuat melalui inovasi berbasis universitas. Ia menyoroti potensi kerja sama di bidang teknologi pertanian, pengembangan produk peternakan seperti ayam, telur, dan susu, serta peningkatan produktivitas pangan.
Selain itu, kolaborasi juga mencakup pertukaran mahasiswa, penguatan riset bersama, dan partisipasi dalam forum serta konferensi internasional, termasuk World Agri-Food Innovation Conference dan aliansi global inovasi agri-food A20. (dr)
