Dosen IPB University Soroti Mitigasi Bencana yang Masih Reaktif
Banjir bukan sekadar peristiwa alam, melainkan alarm atas kerusakan yang tidak dikelola dengan baik. Hal tersebut ditegaskan Dr Dwi Retno Hapsari, dosen Komunikasi dan Penyuluhan di Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia IPB University.
“Banjir sebenarnya alert atau gejala. Ketika banjir terjadi, berarti ada sesuatu yang rusak di alam karena tidak dikelola dengan baik,” ujarnya dalam Muslimah Agricultural Talks #4 yang diselenggarakan Komunitas Intelektual Muslimah di IPB University.
Menurutnya, Indonesia merupakan ‘laboratorium bencana’ sehingga mitigasi perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Ia mengkritisi mitigasi bencana yang sering kali dilakukan. Mitigasi cenderung bersifat reaktif sehingga dampak bencana terus berulang seperti ‘agenda tahunan’ yang tidak ditangani secara komprehensif dari pra hingga pasca bencana.
“Jika berbicara tentang komunikasi publik, pola berulang yang kita temukan adalah ketika banjirnya surut, beritanya juga surut.”
Dr Retno menekankan, “Mitigasi melalui komunikasi publik perlu dilakukan oleh multipihak, yaitu ABCGM yang terdiri dari akademisi, bisnis, community (masyarakat), government (pemerintah), dan media.”
“Hadirnya pemerintah luar biasa penting karena mereka pemilik power yang seharusnya mampu mengolaborasikan multipihak tersebut,” tutupnya.
Diskusi ini bertujuan untuk membangkitkan kesadaran mahasiswa dan aktivis lingkungan mengenai permasalahan bencana yang terus berulang. Acara dihadiri aktivis perempuan dari berbagai organisasi mahasiswa dan aktivis lingkungan di IPB University.
Melalui forum ini, Dr Retno berharap kesadaran kolektif tentang pentingnya mitigasi berbasis komunikasi publik dapat terus diperkuat, sehingga penanganan bencana tidak lagi sekadar reaksi, melainkan langkah sistematis dan berkelanjutan.
