Tanggapi Kejadian Sinkhole di Sumbar, Peneliti IPB University: Alarm Gagalnya Pengelolaan Tanah dan Air
Fenomena sinkhole atau lubang runtuhan tanah yang terjadi di Sumatera Barat tidak dapat lagi dipandang sebagai kejadian alam semata. Kemunculan lubang runtuhan secara tiba-tiba di kawasan permukiman dan pertanian menjadi indikator nyata krisis tata kelola tanah dan air tanah yang selama ini luput dari perhatian.
Guru Besar Ilmu Tanah IPB University, Prof Widiatmaka menjelaskan bahwa secara ilmiah sinkhole terbentuk akibat hilangnya kestabilan struktur tanah melalui proses pelindian (leaching) dan erosi bawah permukaan (piping). Proses ini terutama terjadi pada tanah bertekstur halus hingga sedang yang berada di atas batuan mudah larut atau lapisan berongga.
“Curah hujan tinggi memang berperan sebagai pemicu, tetapi penyebab utamanya adalah melemahnya struktur tanah akibat hilangnya partikel halus dari lapisan bawah. Rongga terbentuk secara perlahan, tetapi runtuhnya bisa sangat tiba-tiba,” ujarnya.
Pada banyak kasus, ia melanjutkan, kondisi tersebut diperparah oleh aktivitas manusia yang mengubah sistem air-tanah secara drastis. Pengambilan air tanah berlebihan, pembangunan drainase tanpa kajian hidrogeologi, serta pembebanan lahan tanpa perhitungan daya dukung tanah mempercepat kegagalan struktur tanah.
Menurutnya, perubahan tata guna lahan merupakan faktor kunci yang kerap diabaikan. Alih fungsi hutan dan lahan bervegetasi menjadi kawasan terbangun atau pertanian intensif menghilangkan fungsi ekologis tanah sebagai penyangga air dan struktur.
“Hilangnya penutup vegetasi dan bahan organik tanah menurunkan agregasi tanah. Akibatnya, tanah kehilangan kohesi dan menjadi sangat rentan terhadap erosi internal melalui piping,” jelasnya.
Dalam kondisi tersebut, air hujan tidak lagi terdistribusi secara stabil, melainkan terkonsentrasi ke jalur tertentu di bawah permukaan. Aliran air terfokus inilah yang mempercepat pembentukan rongga dan melemahkan lapisan penutup tanah.
Prof Widiatmaka menilai eksploitasi air tanah berlebihan sebagai faktor paling berbahaya karena bekerja seperti “bom waktu” di bawah permukaan. Penurunan muka air tanah secara cepat menghilangkan tekanan penyangga alami pada rongga bawah tanah. Sementara fluktuasi basah-kering berulang melemahkan kohesi tanah.
“Tanpa pengendalian ketat, pengambilan air tanah bukan hanya mengancam ketersediaan air, tetapi juga mengorbankan stabilitas lahan dan keselamatan manusia,” tegasnya.
Wilayah Paling Rentan
Di Indonesia, sinkhole paling berpotensi terjadi pada tanah bertekstur halus hingga sedang di kawasan karst (batu gamping) serta material vulkanik tua yang telah sangat lapuk. Kondisi ini banyak dijumpai di kawasan karst Gunung Sewu (DIY–Jawa Tengah), Maros–Pangkep (Sulawesi Selatan), Kendeng Utara dan Selatan (Jawa Tengah–Jawa Timur), Citatah–Padalarang (Jawa Barat), serta Sangkulirang–Mangkalihat (Kalimantan Timur).
Selain itu, wilayah dengan material vulkanik tua yang telah mengalami pelapukan intensif, seperti Cekungan Bandung dan sekitarnya, lereng gunung api tua di Jawa bagian tengah dan barat, serta beberapa kawasan di Sumatra bagian barat, juga memiliki potensi pembentukan sinkhole.
“Tanah-tanah ini umumnya berstruktur lemah, berporositas tinggi, dan miskin bahan organik, sehingga rentan mengalami amblesan ketika terjadi perubahan aliran air bawah tanah,” paparnya.
Sinkhole berdampak langsung pada keberlanjutan lahan, merusak infrastruktur, mengganggu drainase, serta menurunkan produktivitas pertanian. Dari sisi lingkungan, runtuhan tanah mengubah aliran air dan meningkatkan risiko pencemaran air tanah.
Sebagai mitigasi, Prof Widiatmaka menegaskan bahwa penanganan sinkhole tidak boleh bersifat reaktif. Identifikasi dan pemetaan kerentanan lahan harus dilakukan melalui kajian ilmiah terintegrasi, diperkuat dengan monitoring air tanah dan survei geofisika dangkal.
“Sinkhole adalah peringatan keras bahwa sistem tanah air kita sedang tidak sehat. Tanpa sinergi sains dan kebijakan, runtuhan tanah hanya tinggal menunggu waktu,” pungkasnya. (AS)
