Penanaman Pisang Tak Cukup, Ini Rekomendasi Dua Pakar IPB University Cegah Gangguan Monyet ke Permukiman
Upaya menanam pisang di kawasan habitat monyet sebagai solusi untuk mencegah masuknya monyet liar ke pemukiman penduduk dinilai perlu dikaji lebih mendalam oleh para ahli.
Pakar Buah Tropika IPB University, Prof Sobir, menilai penanaman pisang tidak bisa dijadikan satu-satunya solusi. Menurutnya, monyet tidak hanya memiliki preferensi pakan pada pisang saja. Oleh karena itu, diperlukan konsultasi dengan ahli primata agar kebijakan yang diambil tepat sasaran.
“Saya khawatir kalau hanya pisang tidak menyelesaikan masalah. Ini terkait potensi preferensi monyet yang bukan hanya pisang. Perlu pertimbangan mendalam, jangan sampai justru meningkatkan populasi monyet,” ujar Prof Sobir.
Ia menjelaskan, jenis pisang yang dipilih sebaiknya bukan pisang konsumsi manusia, seperti pisang batu, agar tidak justru diambil oleh manusia.
Selain itu, pisang yang ditanam harus mampu berbuah sepanjang tahun, terutama pada musim kemarau, memiliki ketahanan terhadap penyakit, serta membutuhkan pemeliharaan minimum agar biaya tetap rendah. Luasan area tanam, menurutnya, harus disesuaikan dengan jumlah populasi monyet di kawasan tersebut.
Prof Sobir juga menyarankan pola penanaman tidak dilakukan secara monokultur agar tidak mengganggu konservasi pohon lain di sekitarnya. Kombinasi tanaman pakan lain dapat disesuaikan dengan preferensi monyet, namun tetap harus dirancang secara hati-hati.
Pakar Satwa Primata IPB University Prof Huda Darusman juga menegaskan hal yang sama. Ia menyampaikan bahwa penanaman pisang hanya dapat menjadi salah satu upaya untuk mengurangi pergerakan monyet liar, bukan solusi utama.
Menurutnya, penyediaan fasilitas pakan di habitat alami berpotensi menahan pergerakan monyet, tetapi tantangan terbesar adalah kecukupan dan keberlanjutan ketersediaan pakan tersebut.
“Tidak hanya pisang atau pohon pakan, perlu juga ekosistem pelengkapnya,” jelas Prof. Huda yang kini menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Satwa Primata IPB University.
“Tanpa pengelolaan yang tepat, penyediaan pakan tambahan secara artifisial atau buatan ini dapat berpotensi menimbulkan permasalahan lain, yaitu pengendalian populasi pada kawasan tersebut,” tandasnya.
Karena itu, ia merekomendasikan solusi jangka panjang meliputi upaya translokasi disertai pengendalian reproduksi seperti sterilisasi satwa primata agar dapat mengurangi populasinya. Selain itu, diperlukan informasi yang komprehensif terkait perilaku, habitat, populasi, dan sebaran satwa primata sehingga upaya penanggulangan lebih efektif dan tepat.
Kedua pakar sepakat bahwa tanpa perencanaan komprehensif dan berbasis ekologi, upaya penanaman pakan berisiko tidak menyelesaikan masalah konflik manusia dan monyet, bahkan dapat memperburuk kondisi yang ada. (dh)
