Pakar Ekotoksikologi IPB University: Mikroplastik Kurangi Efektivitas Laut dalam Menyerap Karbon

Pakar Ekotoksikologi IPB University: Mikroplastik Kurangi Efektivitas Laut dalam Menyerap Karbon

pakar-ekotoksikologi-ipb-university-mikroplastik-kurangi-efektivitas-laut-dalam-menyerap-karbon
Ilustrasi mikroplastik di laut (freepik)
Riset dan Kepakaran

Pakar Pencemaran dan Ekotoksikologi IPB University, Prof Etty Riani, mengungkapkan bahwa mikroplastik menjadi salah satu faktor yang dapat mengurangi efektivitas laut dalam menyerap dan menyimpan karbon, meski bukan penyebab tunggal. Hal itu disampaikannya dalam wawancara tertulis di Kampus IPB Bogor (15/1).

Prof Etty menegaskan hingga kini belum ada satu penelitian ilmiah yang secara langsung menyatakan mikroplastik menjadi penyebab utama berkurangnya kemampuan laut menyerap karbon. Namun, sejumlah hasil riset menunjukkan mikroplastik berkontribusi menurunkan efektivitas tersebut melalui gangguan terhadap organisme kunci dan proses biogeokimia di laut.

“Mikroplastik dapat mengganggu fitoplankton, organisme laut yang berperan penting menyerap karbon melalui fotosintesis. Mikroplastik (terutama nanoplastik) yang menempel di permukaan fitoplankton dapat menghalangi sinar matahari sehingga menghambat proses fotosintesis dan menurunkan kemampuan fitoplankton menyerap karbon,” ungkapnya.

Selain itu, mikroplastik juga memengaruhi rantai makanan laut. Zooplankton yang seharusnya memakan fitoplankton kerap mengonsumsi mikroplastik karena bentuknya yang mirip. Kondisi tersebut menyebabkan zooplankton kekurangan nutrisi dan energi sehingga populasinya berpotensi menurun.

Padahal, Prof Etty melanjutkan, zooplankton berperan penting dalam membawa karbon ke dasar laut melalui kotoran dan bangkainya yang dikenal sebagai marine snow.

“Keberadaan mikroplastik membuat agregat karbon menjadi lebih ringan sehingga proses tenggelam ke dasar laut berlangsung lebih lambat. Akibatnya, karbon lebih lama berada di permukaan atau kolom air dan berpeluang kembali terlepas ke atmosfer,” lanjut dia.

Ia juga menyebut mikroplastik dapat menjadi inang antara bagi bahan berbahaya dan beracun (B3), seperti logam berat. Zat-zat tersebut dapat mengganggu proses fisiologis organisme laut, termasuk reproduksi, merusak organ tubuh, dan menurunkan populasi biota laut dan berbagai masalah lainnya. “Kondisi ini pada akhirnya melemahkan kemampuan ekosistem laut menyimpan karbon dalam jangka panjang,” jelasnya.

Untuk mengurangi mikroplastik, Prof Etty mendorong pengurangan penggunaan plastik, terutama plastik sekali pakai dan mikroplastik primer seperti microbeads pada produk perawatan dan kosmetik. Ia juga menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan kepada masyarakat di semua kalangan melalui pendidikan sejak usia dini hingga perguruan tinggi.

Selain itu, ia menilai perlu perubahan paradigma bahwa limbah bukan sekadar “sampah” yang tidak berguna, melainkan memiliki nilai ekonomi. Edukasi kepada masyarakat, pemerintah, dan industri terkait pengelolaan limbah yang lebih baik serta penerapan ekonomi sirkular dinilai penting, termasuk pemanfaatan teknologi untuk meminimalkan mikroplastik dan nanoplastik yang sudah terlanjur mencemari lingkungan.

Menurut Prof Etty, para peneliti saat ini terus melakukan riset untuk mengembangkan material ramah lingkungan, termasuk bioplastik berbasis bahan alam. Namun, ia menegaskan solusi paling efektif harus dilakukan secara holistik dan terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari pencegahan sumber plastik, pengelolaan limbah yang baik, edukasi berkelanjutan hingga penguatan sistem 3R (reduce, reuse, recycle) berbasis ekonomi sirkular.

Ia juga menekankan perlunya peningkatan pemantauan mikroplastik dan pengurangan sampah plastik di seluruh perairan Indonesia melalui kerja sama lintas instansi, termasuk dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

“Pengurangan mikroplastik perlu dilakukan melalui kombinasi kebijakan yang efektif, teknologi inovatif yang implementatif, perubahan perilaku masyarakat, serta kolaborasi global. Yang terpenting saat ini adalah implementasi kebijakan yang sudah ada secara terkoordinasi dan konsisten agar sumbangan mikroplastik ke laut dapat diminimalkan,” ujarnya. (dh)