Pakar AI IPB University Buka Wawasan Mahasiswa Baru Pascasarjana tentang Pertanian Cerdas dan Riset Interdisiplin

Pakar AI IPB University Buka Wawasan Mahasiswa Baru Pascasarjana tentang Pertanian Cerdas dan Riset Interdisiplin

pakar-ai-ipb-university-buka-wawasan-mahasiswa-baru-pascasarjana-tentang-pertanian-cerdas-dan-riset-interdisiplin.jpg
Berita / Pendidikan

Sekolah Pascasarjana (SPs) IPB University menyambut 670 mahasiswa baru Program Doktor, Magister, dan Profesi Insinyur Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 melalui kegiatan kuliah umum bertajuk “Pertanian Cerdas di Era Big Data: Peluang Riset Interdisiplin di IPB University”

Pelaksana Tugas (Plt) Dekan SPs IPB University, Prof Yusli Wardiatno, menyampaikan bahwa SPs saat ini tengah bertransformasi untuk meningkatkan kualitas layanan akademik seiring arah kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dalam mendorong peningkatan jumlah doktor di Indonesia.

“Saya berharap kalian sebagai mahasiswa memiliki rasa percaya diri, kebanggaan, serta tanggung jawab moral dalam membawa nama baik IPB University,” ujarnya dalam acara yang digelar di Auditorium Andi Hakim Nasution, Kampus IPB Dramaga, (20/1).

Rektor IPB University, Dr Alim Setiawan Slamet, menyampaikan ucapan selamat datang dan selamat bergabung kepada seluruh mahasiswa baru pascasarjana. Ia menegaskan posisi IPB University sebagai perguruan tinggi bereputasi global dengan peringkat 49 dunia versi QS World University Rankings by Subject Agriculture and Forestry, peringkat 10 Asia, serta peringkat pertama di Asia Tenggara dan Indonesia.

“Komitmen kami adalah menjaga mutu agar lulusan benar-benar berkualitas,” ujar Rektor. Ia menekankan pentingnya integritas akademik, inovasi, dan passion dalam menjalani studi pascasarjana. Menurutnya, tantangan masa depan bukan hanya mencari jawaban, tetapi merumuskan pertanyaan yang tepat di tengah perkembangan kecerdasan buatan dan kompleksitas persoalan global.

Kuliah umum disampaikan oleh Prof Yeni Herdiyeni Ketua Program Studi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) IPB University. Dalam paparannya, Prof Yeni menekankan urgensi pengembangan pertanian cerdas sebagai respons atas berbagai tantangan global, seperti pertumbuhan penduduk, penurunan tenaga kerja pertanian sejak tahun 2000, serta dominasi petani kecil di Asia, termasuk Indonesia.

“Lebih dari 450 juta petani kecil di dunia, dengan sebagian besar berada di Asia, memiliki lahan kurang dari dua hektare. Kondisi ini diperparah oleh tingginya limbah pangan yang mencapai sepertiga total produksi akibat persoalan logistik dan rantai pasok,” ungkapnya.

Namun demikian, ia mengatakan, bonus demografi dan adanya teknologi AI yang mampu meningkatkan minat investasi di sektor pertanian dinilai sebagai peluang besar untuk transformasi pertanian berbasis teknologi.

Teknologi seperti AI, big data, dan internet of things (IoT) memungkinkan pengelolaan pertanian secara lebih efisien, mulai dari pemilihan bibit, pengairan berbasis data kelembaban tanah, hingga pengendalian penyakit tanaman.

Ia juga menyoroti peran big data dan generative artificial intelligence dalam mendukung pertanian, khususnya bagi petani kecil. Pemanfaatan model bahasa, antarmuka suara, serta teknologi multimodal dinilai dapat membantu penyuluhan pertanian dalam bahasa daerah dan mempermudah transfer pengetahuan kepada petani.

“Target utama studi pascasarjana adalah riset. Jangan takut keluar dari bidang keilmuan, karena di sanalah peluang riset interdisiplin dan pembelajaran baru muncul,” ujar Prof Yeni.