Memahami ADHD Sejak Dini, Psikiater IPB University Jelaskan Gejala hingga Penanganannya
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan gangguan perkembangan saraf yang dapat memengaruhi fungsi akademik, sosial, hingga kinerja seseorang di dunia kerja.
Psikiater yang juga dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc menjelaskan bahwa pemahaman yang tepat mengenai gejala, waktu konsultasi, serta penanganan ADHD menjadi kunci untuk mencegah dampak jangka panjang yang lebih serius.
Dalam penjelasannya, dr Riati menyampaikan, “Penderita ADHD umumnya mengalami kesulitan memusatkan perhatian dan sangat mudah terdistraksi oleh rangsangan kecil di sekitarnya. Mereka sering tidak menyelesaikan tugas sampai tuntas dan tampak seperti tidak mendengarkan ketika diajak berbicara.”
Selain gangguan perhatian, penderita ADHD juga cenderung gelisah, sulit diam, serta banyak bergerak meskipun berada dalam situasi yang menuntut ketenangan. Perilaku impulsif, seperti memotong pembicaraan atau tidak sabar menunggu giliran, juga kerap muncul.
Lebih lanjut, dr Riati menegaskan bahwa konsultasi ke dokter sebaiknya segera dilakukan apabila gejala ADHD muncul sejak sebelum usia 12 tahun dan berlangsung terus-menerus selama enam bulan atau lebih.
Ia menambahkan bahwa tanda penting lainnya adalah ketika gejala tersebut muncul di lebih dari satu lingkungan, seperti di rumah, sekolah, atau tempat kerja.
“Konsultasi menjadi sangat utama ketika gejala sudah mengganggu fungsi sosial, prestasi akademik, kinerja pekerjaan, hingga menimbulkan stres berat,” jelasnya.
ADHD, menurut dr Riati, dapat berdampak signifikan terhadap prestasi akademik maupun kinerja profesional. Penderita sering kesulitan mempertahankan fokus saat belajar atau bekerja sehingga tugas tidak selesai tepat waktu dan hasil akademik menurun.
Kondisi ini juga memengaruhi motivasi dan ketekunan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. “Apabila tidak ditangani secara tepat, risiko kegagalan studi atau pekerjaan dapat meningkat,” ucapnya.
Terkait penanganan, dr Riati menjelaskan bahwa ADHD ditangani secara multimodal dengan mengombinasikan terapi obat dan non-obat. Terapi perilaku dan terapi kognitif-perilaku (CBT) dianjurkan untuk melatih regulasi diri, emosi, serta fungsi eksekutif.
Dari sisi medis, dokter dapat meresepkan obat seperti metilfenidat atau atomoksetin untuk membantu meningkatkan fokus dan mengontrol impulsivitas. Modifikasi lingkungan, dukungan keluarga, serta penerapan gaya hidup sehat juga berperan penting dalam membantu menstabilkan gejala.
dr Riati menekankan bahwa impulsif dan tidak tepat waktu memang termasuk gejala ADHD, namun tidak selalu menandakan seseorang pasti mengalami kondisi tersebut.
“Diagnosis ADHD harus dilakukan oleh tenaga profesional dengan kriteria yang jelas dan menyeluruh,” ucapnya. (dr)
