Makan Sehat Tak Harus Mahal, Ini Tips Pakar Gizi IPB University untuk Mahasiswa
Makan sehat tidak selalu identik dengan biaya mahal. Bagi banyak mahasiswa, keterbatasan uang saku dan kesibukan kuliah kerap membuat mereka memilih makan sekadarnya.
Menurut Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat IPB University, Prof Hardinsyah, mahasiswa tetap bisa memenuhi kebutuhan gizi meski memiliki anggaran terbatas. Kuncinya ada pada perencanaan sederhana dan pilihan menu yang tepat. Asupan makanan yang seimbang terbukti berperan penting dalam menjaga konsentrasi, stamina, dan produktivitas di tengah jadwal perkuliahan yang padat.
“Enak itu relatif. Bisa mahal, bisa juga hemat, tergantung kondisi mahasiswa. Yang penting tetap bergizi,” ujarnya dalam IPB Podcast yang tayang di kanal YouTube IPB TV.
Menurut Prof Hardinsyah, mahasiswa perlu cermat dalam menyusun menu harian. Ia menekankan pentingnya tetap mengonsumsi makanan pokok, lauk berprotein, serta sayur atau buah. “Sarapan itu sekitar satu per lima kebutuhan harian. Makan siang bisa sampai 40 persen,” katanya.
Ia menyoroti kebiasaan mahasiswa yang mengandalkan makanan praktis seperti roti atau mi instan. Pola ini, menurutnya, perlu diperbaiki dengan penambahan protein dan sayuran.
“Kalau makan mi, pakai telur, tambahkan timun setengah biji yang disayat-sayat, atau tomat satu biji. Jangan cuma satu sayat, itu hanya aksesoris,” ujarnya.
Mahasiswa, lanjut Prof Hardinsyah, membutuhkan seluruh zat gizi, terutama protein untuk menjaga massa otot dan kebugaran tubuh. Sumber protein tidak harus mahal dan dapat diperoleh dari telur, tempe, tahu, ikan, atau ayam. “Protein itu penting, bukan hanya buat yang nge-gym, tapi semua orang yang aktif,” katanya.
Ia juga menyoroti kebiasaan mahasiswa yang sering mengabaikan sayur karena alasan waktu dan biaya. “Repotnya, sering kali karena kita berburu karbohidrat, lalu tak menghiraukan sayur. Padahal sayur dan buah itu sumber antioksidan,” ujarnya.
Terkait maraknya konsumsi junk food di sekitar kampus, Prof Hardinsyah menyarankan mahasiswa untuk lebih bijak dalam mengombinasikan makanan. “Kalau terpaksa makan ayam goreng, tidak apa-apa, tapi imbangi dengan jus buah asli, bukan jus rasa, dan gulanya minimal,” katanya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar memilih tempat makan yang bersih dan menyajikan makanan hangat. “Di sekitar kampus banyak pilihan. Warteg sekarang juga sudah semakin bersih. Dengan Rp10.000 sudah bisa makan,” ujarnya.
Selain itu, penggunaan tumbler untuk membawa minum serta memasak bersama di kos dinilai dapat menghemat pengeluaran. Menurutnya, kegiatan memasak bersama juga melatih komitmen, kerja sama, dan tanggung jawab. “Masak bersama itu ada nilai kepemimpinan yang luar biasa,” katanya.
Prof Hardinsyah menegaskan bahwa kunci pola makan mahasiswa adalah keseimbangan. “Tidak apa-apa sesekali makan junk food, tapi tetap harus diseimbangkan dengan sayur dan buah,” ujarnya. (Fj)
