IPB University Diseminasikan Program Identifikasi Jenis dan Asal-Usul Kayu
IPB University melalui Workshop Pengembangan Teknologi Identifikasi Jenis dan Asal-Usul Kayu Komersial mendorong penguatan tata kelola hutan lestari berbasis sains dan teknologi.
Kegiatan bertajuk “Diseminasi Indonesian-Based Wood Identification Program” ini diselenggarakan di IPB International Convention Center (IICC), Bogor (22/1), dihadiri pemangku kepentingan lintas sektor, baik secara luring maupun daring.
Wakil Rektor Bidang Konektivitas Global, Kerja Sama, dan Alumni, Prof Iskandar Z Siregar, menyampaikan bahwa program ini telah berkembang sejak tahap awal hingga memiliki kapasitas riset yang terus diperkuat.
“Kebetulan saya juga peneliti utama kegiatan ini sejak awal. Kami melaporkan capaian yang telah dilakukan dan bagaimana hasilnya dikembangkan bersama para pemangku kepentingan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa identifikasi kayu mencakup penentuan jenis dan asal-usul, yang menjadi krusial dalam perdagangan internasional untuk menjamin integritas produk.
Hal tersebut sejalan dengan penerapan regulasi global seperti Lacey Act di Amerika Serikat serta kebijakan serupa di Eropa dan Australia. “Teknologi identifikasi kayu sangat penting bagi perdagangan global dan perekonomian bangsa,” kata Prof Iskandar.
Program ini mengintegrasikan berbagai pendekatan ilmiah, meliputi anatomi kayu, genetika, isotop stabil, serta analisis kimia menggunakan teknologi Direct Analysis in Real Time-Time-of-Flight- Mass Spectrometry (DART-TOF-MS).
Selain membangun basis data referensi, lanjut Prof Iskandar, program juga menekankan capacity building berkelanjutan. Tiga jenis kayu model dipilih, yakni meranti merah (Shorea leprosula), bangkirai (Shorea laevis), dan ramin, yang mewakili ekosistem serta sebaran utama hutan Indonesia.
Pengambilan sampel dilakukan di berbagai kawasan, mulai dari taman nasional hingga wilayah kelola Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dan hutan lindung, dengan dukungan perizinan dari Kementerian Kehutanan.
“Data yang terkumpul digunakan untuk pengembangan model sebaran, heat map, serta analisis keunikan spektra kimia, DNA, dan isotop tiap lokasi,” ucap Prof Iskandar.
Direktur Forest Governance and Policy World Resources Institute (WRI) Washington DC, Tina Schneider, menyatakan bahwa pemanfaatan alat forensik untuk identifikasi kayu sangat penting dalam memberantas perdagangan kayu ilegal.
Menurutnya, “Pertanyaan mengenai apakah kayu berasal dari jenis dan lokasi yang tepat menjadi kunci dalam menciptakan rantai pasok legal dan berkelanjutan.”
Ia menambahkan, kolaborasi global melalui jaringan seperti World Forest ID memungkinkan penguatan basis data kimia, DNA, dan isotop lintas negara, termasuk di kawasan Asia Pasifik yang masih membutuhkan pengayaan data.
Dalam workshop ini turut terlibat peneliti dari berbagai stakeholders. Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan konsorsium riset Indonesian-Based Wood Identification Program dalam pengembangan teknologi identifikasi kayu di Indonesia. (dr)
