Inovasi Prof Desrial, Nyamplung dan Biogas Jadi Bahan Bakar Mesin Pertanian

Inovasi Prof Desrial, Nyamplung dan Biogas Jadi Bahan Bakar Mesin Pertanian

inovasi-prof-desrial-nyamplung-dan-biogas-jadi-bahan-bakar-mesin-pertanian.jpg
Ilustrasi nyampung (Foto : Farida Indriastuti/Mongabay Indonesia)
Berita / Riset dan Kepakaran

Pakar Teknik Mesin Pertanian IPB University, Prof Desrial, mengembangkan inovasi energi terbarukan berbasis sumber daya lokal dengan memanfaatkan minyak nyamplung dan biogas sebagai bahan bakar mesin pertanian. Inovasi ini dinilai berpotensi besar mendukung kemandirian energi di sektor pertanian nasional.

“Minyak nyamplung dapat digunakan langsung sebagai bahan bakar mesin diesel pertanian,” ujarnya dalam Orasi Ilmiah Guru Besar, Sabtu (24/1). “Ini bagian dari pengembangan teknologi energi terbarukan di sektor pertanian.”

Prof Desrial menyebutkan, potensi minyak nyamplung di Indonesia mencapai sekitar 4,8 juta ton per tahun, sehingga sangat potensial dikembangkan sebagai sumber energi terbarukan. Pengujian kinerja mesin diesel dengan menggunakan minyak nyamplung murni telah dilakukan dan menunjukkan hasil yang menjanjikan.

“Hasil pengujian menunjukkan bahwa motor diesel dengan bahan bakar minyak nyamplung memiliki pola kinerja yang serupa dengan bahan bakar solar,” ungkapnya.

Riset tersebut merupakan bagian dari pengembangan rekayasa mesin diesel berbahan bakar nabati, khususnya minyak kelapa dan minyak nyamplung. Melalui sistem pemanas bahan bakar yang memanfaatkan panas gas buang, mesin diesel konvensional dapat diadaptasi untuk menggunakan minyak nabati murni tanpa melalui proses konversi kimia yang rumit.

Berdasarkan hasil pengujian laboratorium dan lapangan, mesin diesel tetap mampu beroperasi secara stabil dengan penurunan daya yang masih dapat diterima. Teknologi ini berpotensi diterapkan secara luas pada alat dan mesin pertanian (alsintan), genset, hingga mesin kapal nelayan, terutama di wilayah perdesaan dan terpencil. Atas inovasi tersebut, riset Prof Desrial masuk dalam daftar 104 inovasi paling prospektif di Indonesia.

Selain minyak nabati, Prof Desrial juga mengembangkan teknologi konverter biogas sebagai solusi energi terbarukan bagi masyarakat perdesaan. Konverter ini dirancang sederhana, mudah difabrikasi, dan dapat langsung dipasang pada motor bakar bensin untuk menggantikan fungsi karburator.

“Potensi biogas di kawasan peternakan sangat besar. Di Indonesia, potensinya mencapai sekitar 28 juta meter kubik per tahun. Ini bisa dimanfaatkan untuk motor bakar bensin,” jelasnya.

Konverter biogas tersebut telah diuji langsung di peternakan sapi dengan memanfaatkan biogas dari digester. Hasilnya, pompa air yang menggunakan bahan bakar biogas dapat beroperasi dengan baik dan stabil, sehingga layak dimanfaatkan oleh petani dan peternak.

Prof Desrial juga menyinggung kebijakan energi nasional, di mana Indonesia saat ini telah menerapkan program B40 dan tengah bersiap menuju B50. Program ini sejalan dengan upaya pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Kementerian Pertanian untuk memperkuat pemanfaatan bahan bakar nabati, khususnya berbasis minyak sawit.

“Inovasi ini menegaskan bahwa pembangunan industri alsintan nasional harus berpijak pada tiga pilar utama, yaitu kesesuaian teknologi dengan agroekosistem tropis, pemanfaatan energi terbarukan berbasis sumber daya lokal, serta kesiapan teknologi untuk diadopsi oleh pengguna,” ujarnya. (dh)