Dosen FK IPB University Jelaskan Risiko Kesehatan Air Sinkhole di Sumatera Barat

Dosen FK IPB University Jelaskan Risiko Kesehatan Air Sinkhole di Sumatera Barat

dosen-fk-ipb-university-jelaskan-risiko-kesehatan-air-sinkhole-di-sumatera-barat
Foto: Instagram.com/@pembasmii.kehaluan
Riset dan Kepakaran

Temuan bakteri Escherichia coli (E coli) pada air sinkhole di Sumatera Barat menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kesehatan masyarakat. Meski sebagian jenis E coli merupakan bakteri normal yang hidup di saluran pencernaan manusia, keberadaannya dalam air konsumsi menandakan pencemaran serius dan berpotensi menimbulkan penyakit.

Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr Aisyah Amanda Hanif, MSc menjelaskan bahwa tidak semua E coli berbahaya. Namun, beberapa jenis tertentu bersifat patogen dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan apabila masuk ke tubuh melalui air minum atau makanan yang terkontaminasi.

E coli umumnya bakteri normal di saluran cerna, tetapi jenis tertentu dapat menyebabkan gangguan pencernaan jika dikonsumsi,” jelas dokter Ilmu Biomedik Mikrobiologi tersebut.

Ia mengungkapkan bahwa risiko kesehatan utama akibat konsumsi air yang terkontaminasi E coli adalah infeksi gastrointestinal, yang ditandai dengan gejala seperti diare, muntah, dan dapat berujung pada dehidrasi. Kondisi ini menjadi sangat berbahaya, terutama bagi anak-anak dan lanjut usia.

“Jika air sinkhole yang terkontaminasi digunakan, masyarakat berisiko mengalami penyakit infeksi pencernaan dengan risiko dehidrasi yang berbahaya, khususnya pada kelompok rentan,” ujarnya.

Menurut dr Aisyah, pencemaran air sinkhole sangat mungkin disebabkan oleh aktivitas manusia maupun hewan. Kotoran manusia atau hewan yang terserap ke dalam tanah dapat mencemari air tanah maupun air permukaan, termasuk air yang mengisi lubang sinkhole.

Selain berdampak langsung pada individu, penyakit infeksi pencernaan akibat bakteri ini juga bersifat menular. Penularan dapat terjadi apabila kebersihan tangan, air, dan makanan tidak terjaga dengan baik.

“Penyakit infeksi pencernaan ini bisa menular dari satu orang ke orang lain jika sanitasi dan kebersihan kurang diperhatikan,” tambahnya.

Terkait upaya pencegahan, dr Aisyah menjelaskan bahwa merebus air merupakan salah satu metode sterilisasi yang dapat membunuh bakteri. Namun, berdasarkan laporan laboratorium kesehatan setempat, jumlah bakteri E coli yang ditemukan pada air sinkhole tersebut melebihi ambang batas aman untuk dikonsumsi.

“Dengan kondisi tersebut, sebaiknya masyarakat menghindari penggunaan air dari sinkhole, meskipun telah direbus,” tegasnya.

Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang telah melakukan pengujian sampel air dan mengumumkan hasilnya kepada masyarakat. Ke depan, menurutnya, edukasi publik menjadi kunci penting dalam pencegahan dampak kesehatan.

“Edukasi mengenai sumber air yang aman, gejala penyakit yang mungkin timbul, tanda bahaya, serta pertolongan pertama harus terus dilakukan. Selain itu, penyediaan sumber daya yang cukup di fasilitas kesehatan sekitar lokasi juga penting untuk mencegah keterbatasan tenaga kesehatan, alat medis, maupun obat-obatan,” pungkasnya. (dh)