Inisiasi OVOC, Dr Handian Purwawangsa Raih Anugerah Diktisaintek 2025

Inisiasi OVOC, Dr Handian Purwawangsa Raih Anugerah Diktisaintek 2025

inisiasi-ovoc-dr-handian-purwawangsa-raih-anugerah-diktisaintek-2025
Riset dan Kepakaran

Direktur Pengembangan Masyarakat Agromaritim (DPMA) IPB University, Dr Handian Purwawangsa meraih penghargaan Bronze Winner di ajang Anugerah Riset dan Pengembangan Diktisaintek 2025 kategori Ilmuwan Senior Terbaik di Bidang Inovasi Sosial Humaniora. Penghargaan ini diterima pada (19/12) setelah ia mengusulkan inovasi unggulannya, One Village One CEO (OVOC). 

OVOC adalah inovasi ekosistem bisnis di pedesaan yang ia inisiasi bersama Prof Arif Satria dan Dr Alim Setiawan Slamet.

“Saya bersyukur bahwa karya-karya atau inovasi sosial sekitar 10 tahun dilaksanakan melalui OVOC ini diapresiasi. Namun, terpenting adalah kegiatan OVOC untuk membangun ekosistem bisnis di pedesaan hulu hilir menjadi kesadaran nasional bahwa memang kalau kita mau membangun desa harus diperhatikan hulu hilirnya,” kata Dr Handian.

Ia menceritakan, OVOC mulai diaplikasikan pertama kali pada awal 2019 di 53 desa. Program ini mendapat respons positif dari masyarakat maupun para investor. Bahkan, konsep OVOC ini diterapkan untuk mendampingi fasilitator-fasilitator PT Astra International Tbk di seluruh Indonesia.

“Sekarang sudah seribu lebih desa yang terdampak program OVOC. OVOC sudah mulai diaplikasikan oleh perusahaan-perusahaan lain di luar Astra seperti Adaro, Indomaret, Bank Syariah Indonesia (BSI), Mandiri, dan lainya untuk mengembangkan masyarakat di desa pendampingannya,” tutur Dr Handian.

“OVOC juga sudah memberi warna di program prioritas pemerintah seperti Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), Transmigrasi Patriot, kemudian akan diaplikasikan di Koperasi Merah Putih,” tambah Direktur PMA IPB University ini.

Dr Handian mengungkapkan beberapa dampak program OVOC. Dampak pertama dan yang paling utama adalah perubahan mindset. Para CEO yang merupakan alumni dan mahasiswa akhir, diturunkan ke lapangan sebagian besar tinggal bersama masyarakat, sehingga terdapat proses transfer pengetahuan dan teknologi yang dapat mengubah mindset masyarakat.

“Kedua, tentu saja ada perubahan kapasitas. Mulai dari budi daya, pengolahan, kemudian informasi pasar. Ada beberapa desa OVOC yang sudah ekspor produk unggulannya. Sebelum ekspor pastinya ada proses panjang yang membuat produk satu desa atau beberapa desa bisa menarik pasar global. Tentu saja nantinya akan berdampak pada pendapatan dan penyerapan lapangan kerja,” katanya.

Pada 2026, Dr Handian mengungkapkan OVOC akan diaplikasikan di luar negeri. Pelaksanaan OVOC Internasional akan bekerja sama dengan mahasiswa-mahasiswa IPB University di luar negeri sebagai mitra. Program ini juga akan bekerja sama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) yang dapat mempromosikan OVOC.

Menurut Dr Handian, pengembangan OVOC penting untuk mendukung keberlanjutan ekosistem bisnis dari hulu ke hilir. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai peneliti sosial ia tidak berhenti berinovasi.

“Kita ini masih sangat membutuhkan penelitian-penelitian yang memberikan dampak bagi masyarakat. Dalam pelaksanaannya memang harus ada multikelimuan ketika kita mau penelitian ini berdampak besar,” tandasnya. (MHT)