IPB University Perkuat Kolaborasi Riset Perubahan Iklim dalam Pertemuan MAIRS-FE di Peking University
IPB University berpartisipasi dalam “Meeting of Scientific Steering Committee for Monsoon Asia Integrated Research for Sustainability-Future Earth (MAIRS-FE)” yang diselenggarakan oleh MAIRS-FE bersama Future Earth Global Secretariat Hub (China), beberapa waktu lalu.
IPB University diwakili oleh Dr Perdinan, MNatResEcon dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi, dan Rizki Abdul Basit mahasiswa Program Studi Pascasarjana Ilmu Komputer. Kegiatan berlangsung di College of Environmental Sciences and Engineering, Peking University (CESE PKU), Tiongkok.
“Kami mengusulkan kerangka aksi adaptasi perubahan iklim yang dapat diimplementasikan secara lintas sektor, serta pentingnya penguatan monitoring dan evaluasi dalam operasionalisasi Rencana Aksi Perubahan Iklim Indonesia,” jelas Dr Perdinan.
Melalui forum ini, delegasi IPB University mendorong penguatan kolaborasi riset di kawasan Asia melalui inisiatif Asian Research Collaboration Hub dengan tiga fokus utama. Pertama, Climatic Dataset (From Observation to Projection). Meliputi penyediaan data reanalisis iklim historis, dataset proyeksi iklim darat dan laut, dan analisis iklim ekstrem untuk wilayah terestrial dan samudera.
Kedua, Information System (From Data to Decision Support). Fokus ini, sebut Dr Perdinan, antara lain inventarisasi dampak dan aksi adaptasi perubahan iklim, penilaian dampak di daratan, pesisir, dan laut, serta pengembangan platform pembelajaran dan literasi iklim.
Ketiga, Climate Action (From Knowledge to Implementation) yang mencakup pilot project adaptasi berbasis kawasan urban dan ekosistem, program lintas sektor (iklim, kesehatan, penghidupan), serta forum dan fellowship ilmu–kebijakan kawasan ASEAN.
“Partisipasi IPB University dalam kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat jejaring riset internasional, pengembangan ilmu pengetahuan berbasis bukti, serta kontribusi nyata dalam mempercepat aksi adaptasi perubahan iklim di tingkat nasional dan regional,” tutur Dr Perdinan.
Pada forum ini, delegasi IPB University juga menggambarkan kondisi dan tantangan perubahan iklim di kawasan ASEAN, khususnya Indonesia. Disampaikan pula bagaimana intensitas kejadian iklim ekstrem berdampak pada sektor pangan, air, kesehatan, energi, ekosistem, dan kebencanaan.
Pada sesi pembukaan, hadir Prof Tong Zhu (College of Environmental Sciences and Engineering, Peking University) dan Prof Jiaguo Qi (Department of Geography, Environment, and Spatial Sciences, Michigan State University). Dalam sambutannya, Prof Jiaguo Qi menekankan pentingnya memperkuat jembatan kolaborasi riset antarnegara di Asia, khususnya dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.
Pertemuan ini juga menampilkan pemaparan perkembangan riset dari para ilmuwan terkemuka, di antaranya Prof Yong Liu, Prof Yang Ou, dan Prof Yue Qin (CESE PKU), Prof Tong Jiang dan Prof Lili Lei (Nanjing University), Prof Charlie Navanugraha (Nakhon Phanom University, Thailand), serta Prof Balt Suvdantsetseg (Mongolian Academy of Sciences). (*/Rz)

