CTSS IPB University Ajak Generasi Muda Menenun Jati Diri Bangsa Lewat Pengetahuan Lokal
Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University bekerja sama dengan Samdhana Institute kembali menggelar General Lecture dan Pengumuman Pemenang Kontes Esai dan Video Dokumenter Pengetahuan Lokal ke-6 dengan tema “Merajut Wajah Negeri, Memperkokoh Jati Diri”.
Kegiatan ini menjadi wadah reflektif yang mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menenun kembali jati diri bangsa melalui kebijaksanaan tradisi dan pengetahuan lokal Indonesia.
Kepala CTSS IPB University, Prof Damayanti Buchori, menjelaskan bahwa gagasan awal CTSS adalah untuk mengembangkan kajian pengetahuan lokal dan tradisional yang kian tergerus modernisasi.
“Topik ini muncul karena kita menyadari adanya degradasi terhadap sistem pengetahuan lokal, sementara sebagian masyarakat masih menjaga dan melestarikannya,” ujarnya.
Sejak tahun 2020, ia mengatakan, CTSS menggagas Kontes Esai dan Video Dokumenter Pengetahuan Lokal untuk ‘memenangkan kembali’ nilai-nilai kearifan tradisional yang sempat terpinggirkan.
“Kita berusaha belajar dari masa lalu, dari pengetahuan lokal dan ekologi yang menjadi warisan budaya bangsa,” tambahnya.
Senada dengan itu, Prof Rizaldi Boer, Kepala Lembaga Riset Internasional Lingkungan dan Perubahan Iklim (LRI LPI) IPB University, menilai CTSS memiliki peran utama dalam mengembangkan ilmu keberlanjutan (sustainability science).
“Kita mencoba mendorong generasi muda memahami bagaimana manusia dan lingkungan berinteraksi dalam mengelola sumber daya alam. Banyak pengetahuan lokal yang terdokumentasi dengan baik melalui karya esai dan video ini,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Kepala CTSS IPB University, Prof Husin Alatas, melaporkan bahwa tahun ini ada 454 karya yang masuk, 59 di antaranya berupa video dokumenter. Tidak hanya dari dalam negeri, peserta juga datang dari luar negeri seperti Turki dan Belanda.
“Melalui kontes ini, kami ingin menumbuhkan kesadaran kritis generasi muda agar tetap menghargai identitasnya sendiri, tidak tergerus arus informasi dan teknologi,” tuturnya.
Kontes yang terbuka untuk mahasiswa dan masyarakat umum ini menjadi langkah konkret CTSS IPB University dalam memperkuat basis data kearifan lokal di Indonesia.
Dalam kegiatan ini juga digelar General Lecture dengan menghadirkan narasumber Dr Yulia Sugandi dan perwakilan Sekolah Adat Hugulama yang membawakan topik “Belajar dari Sekolah Adat Hugulama: Preservasi Pengetahuan Tradisional”. Selain itu, Ahmad Arif, MSi turut memberikan paparan bertajuk “Mengelola Pengetahuan Tradisional Menjadi Kekuatan Budaya untuk Keberlanjutan Masa Depan”. (dr)
Daftar Pemenang Kontes Esai dan Video Dokumenter Pengetahuan Lokal ke-6
Pemenang Video Pendek Dokumenter
|
Juara 1 |
Sincos Production | Kasepuhan Gelar Alam: Keseimbangan Modernisasi dan Tradisi |
|
Juara 2 |
Komunitas Cahaya Nusantara | Menenun Kehidupan |
| Juara 3 | Semesta Production |
Sirancah: Air, Doa, dan Warisan yang Tak Pernah Surut |
| Juara Favorit | Sincos Production |
Kasepuhan Gelar Alam: Keseimbangan Modernisasi dan Tradisi |
Pemenang Esai Kategori 1: Mahasiswa S1 dan sederajat
|
Juara 1 |
Nabila Sabrina Gisela – Universitas Padjadjaran | Repong Damar: Jawaban Leluhur dari Lampung untuk Krisis Ekologis Dunia |
| Juara 2 | Putri Erika Febrianti – Universitas Negeri Semarang |
Pati Bumi Mina Tani: Prinsip Bertani untuk Kehidupan Suku Samin Sukolilo dalam Menjaga Kelestarian Alam |
Pemenang Esai Kategori 2: Mahasiswa S2/S3
|
Juara 1 |
Wulansary – Universitas Indonesia | Komunitas Sahabat Bumi – Rethinking Folklor: Melampaui Romantisme Menuju Keberlanjutan
|
| Juara 2 | Fikri Haekal Akbar – Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin |
Integrasi Nilai Budaya dan Ekologis pada Tenun Pagatan sebagai Praktik Konsumsi dan Produksi Berbasis Local Wisdom di Kabupaten Tanah Bumbu |
Pemenang Esai Kategori 3: Umum
|
Juara 1 |
Alif Utama Mahanani – SMA IT Ibnu Abbas Klaten | Hamemayu Hayuning Bawana Melalui Ritus Festival Jenang Solo dan Kontruksi Memori Kolektif di Surakarta sebagai Upaya Pemulihan Kedaulatan Pangan Berbasis Budaya |
| Juara 2 | Rabin Marselino Yarangga – Kota Sorong |
Papua Bukan Tanah Kosong: Mengungkap Ancaman Sawit terhadap Kearifan Lokal dan Keberlanjutan Suku Afsya |
