Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Pakar IPB University: Dampak Ketimpangan Relasi dan Ketergantungan Gawai
Kasus seorang remaja di Malang yang melaporkan ibu kandungnya ke polisi setelah ditegur saat bermain gawai memunculkan kekhawatiran baru mengenai relasi keluarga. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana penggunaan teknologi yang berlebihan dapat memengaruhi kontrol diri, emosi, serta pola komunikasi antara orang tua dan anak.
Menurut Guru Besar Pengasuhan Anak IPB University, Prof Dwi Hastuti, perilaku tersebut tidak dapat dilepaskan dari karakteristik generasi Z yang tumbuh di era digital. Perbedaaan kondisi sosial turut menciptakan berubahnya pola relasi keluarga.
“Gen Z tumbuh dengan penggunaan teknologi yang intens. McKinsey & Company menyebutkan generasi ini di Asia menghabiskan 6 jam atau lebih menggunakan handphone,” ujar Prof Tuti. Ia menambahkan bahwa generasi ini juga memiliki karakter kuat dan awareness tinggi terhadap isu ketidaksetaraan.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa tindakan remaja yang melaporkan orang tua tetap tidak dapat dibenarkan. “Remaja masih termasuk anak yang perlu perlindungan. Perkembangan kognitif, sosial, dan emosinya belum stabil.”
“Selain itu, perilaku tersebut melanggar ajaran agama dan norma masyarakat Indonesia yang mengajarkan menghormati orang tua,” katanya.
Meski terjadi perubahan pola relasi keluarga, Prof Tuti menegaskan bahwa orang tua tetap memegang kendali pengasuhan. Untuk menghadapi karakter generasi Z, ia menyarankan pendekatan Tranquility-Calmness Parenting.
“Orang tua perlu tetap tenang menghadapi perilaku anak, mengarahkan mereka memahami nilai spiritual, serta ikhlas dan sabar dalam mendidik,” jelas Prof Tuti yang juga dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University.
Terkait pengaruh gawai, ia mengingatkan agar penggunaan layar pada remaja dibatasi tidak lebih dari dua jam untuk hiburan,dan menghindari penggunaan gadget sambil tidur. Merujuk penelitian Kim et al. (2023), paparan layar sejak dini berdampak pada perilaku agresif melalui kemampuan berbahasa yang menurun dan stres pengasuhan.
“Penggunaan screen time yang berlebihan dapat memengaruhi kemampuan berbahasa anak dan berujung pada konflik,” ujarnya.
Prof Tuti juga menyoroti perilaku parental phubbing (pengabaian anak akibat orang tua lebih fokus pada gawai). “Anak adalah peniru yang ulung. Sebelum melarang anak, orang tua sebaiknya memberi contoh penggunaan smartphone yang baik,” katanya.
Dalam hal disiplin, Prof Tuti merekomendasikan kesepakatan bersama antara orang tua dan remaja. “Orang tua dapat berdiskusi dan menyepakati aturan screen time, serta selalu memonitor penggunaannya,” jelasnya.
Sebagai penutup, Prof Tuti mengingatkan pentingnya kualitas kebersamaan keluarga. “Yang sebenarnya dibutuhkan anak adalah waktu orang tuanya. Beraktivitas dan berdiskusi bersama memperkuat ikatan emosional yang menjadi dasar pembentukan karakter dan tanggung jawab,” tuturnya. (Fj)

