Tragedi Robohnya Bangunan Pesantren, Dosen IPB University Soroti Trauma Psikologis Santri
Peristiwa robohnya bangunan pondok pesantren yang menelan banyak korban meninggalkan duka mendalam, terutama bagi para santri yang selamat. Di balik upaya penyelamatan dan pemulihan fisik, terdapat aspek penting lain yang perlu diperhatikan, yakni kesehatan mental para korban selamat.
Menanggapi hal tersebut, psikiater yang juga dosen Fakultas Kedokteran (FK) IPB University, dr Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc menjelaskan bahwa trauma dapat berpengaruh signifikan terhadap motivasi belajar dan kehidupan sehari-hari.
“Ketika seseorang mengalami trauma, bagian otak yang disebut sistem limbik yang berperan dalam mengatur emosi dan rasa takut menjadi sangat aktif. Akibatnya, bagian otak depan yang berfungsi untuk berpikir, fokus, dan mengambil keputusan bekerja kurang optimal,” paparnya.
Kondisi tersebut, lanjut dia, membuat korban trauma sering kali sulit berkonsentrasi, mudah cemas, dan kehilangan semangat belajar. Karena itu, penanganan trauma perlu dilakukan secara hati-hati dan berkelanjutan.
Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa dampak psikologis yang dialami para santri bisa sangat bervariasi.
“Setiap santri bisa mengalami dampak psikologis yang berbeda-beda. Hal ini bergantung pada pengalaman masing-masing saat kejadian dan bagaimana mereka memaknai peristiwa itu. Ada yang hanya melihat dari jauh, ada yang merasakan langsung getaran atau reruntuhan, bahkan mungkin ada yang terluka,” jelas dr Riati.
Oleh karena itu, lanjutnya, penting untuk melakukan penilaian psikologis secara individual guna mengetahui sejauh mana seorang santri benar-benar terdampak secara psikis. “Jadi, tidak bisa disimpulkan secara umum bahwa semua santri akan mengalami hal yang sama.”
Terkait dampak jangka panjang, dr Riati menuturkan bahwa efek psikologis pada anak-anak yang mengalami musibah di usia dini sangat bergantung pada berbagai faktor.
“Banyak hal yang memengaruhi, seperti kepribadian, cara pandang terhadap peristiwa, dukungan sosial dari orang sekitar, bahkan juga faktor genetik dan nilai-nilai spiritual yang dimiliki,” katanya.
Anak yang mendapatkan dukungan emosional dan lingkungan yang aman biasanya lebih cepat pulih dibandingkan dengan yang tidak mendapatkannya.
dr Riati menegaskan bahwa mengobati rasa takut menjadi langkah utama sebelum mengembalikan semangat belajar.
“Yang utama adalah membantu mereka berdamai dulu dengan rasa takutnya. Rasa takut itu perlu diterima dan dilepaskan secara bertahap, bukan ditekan. Setelah emosi mulai stabil, semangat belajar akan pulih dengan sendirinya karena pusat berpikir di otak sudah bisa berfungsi dengan normal lagi,” pungkasnya. (AS)

