Taman Hutan Kampus IPB University, Destinasi Edukatif Berbasis Biodiversity-Edu Tourism

Taman Hutan Kampus IPB University, Destinasi Edukatif Berbasis Biodiversity-Edu Tourism

taman-hutan-kampus-ipb-university-destinasi-edukatif-berbasis-biodiversity-edu-tourism
Berita / Pendidikan

Di tengah meningkatnya kebutuhan ruang terbuka hijau (RTH) dan destinasi edukatif, IPB University menghadirkan Taman Hutan Kampus sebagai ruang belajar sekaligus ruang healing

Berlokasi di Jalan Lengkeng, kampus IPB Dramaga, Taman Hutan Kampus ini difungsikan sebagai pusat pendidikan konservasi dan lingkungan yang dapat diakses oleh mahasiswa maupun masyarakat luas.

Menurut Resti Meilani, MSi, dosen di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE) IPB University, “Taman Hutan Kampus merupakan sarana vital untuk praktik konservasi, penelitian, serta pendidikan lingkungan.” 

Taman Hutan Kampus dibangun berdasarkan Surat Keputusan Rektor IPB Nomor 086 Tahun 1995, yang menegaskan kawasan ini sebagai area konservasi ex situ sekaligus upaya penghijauan, pengaturan tata udara, tata air, dan tata tanah di kampus IPB Dramaga. 

Salah satu daya tarik Taman Hutan Kampus ini adalah penangkaran rusa dan kandang merak yang mudah diamati oleh pengunjung, terutama anak-anak sekolah. Selain itu, mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) dapat berperan sebagai pemandu interpretasi alam yang menjembatani pengunjung memahami pesan konservasi. 

Vegetasi di taman ini masih terjaga rapat dengan udara yang sejuk, serta dihuni oleh 39 jenis satwa dari kelompok mamalia, herpetofauna, dan aves. Keberadaan Sungai Ciapus di dekatnya menambah daya tarik kawasan ini sebagai destinasi pendidikan lingkungan. 

“Potensi utama Taman Hutan Kampus terletak pada wisata pendidikan berbasis biodiversitas yang bertujuan memberikan pemahaman pentingnya menjaga kekayaan hayati kepada pengunjung,” kata Resti. 

Konsep ini, sebutnya, dikenal sebagai biodiversity-edu tourism, yang mengintegrasikan pendidikan konservasi dengan pengalaman langsung di alam. 

Ke depan, IPB University berencana mengembangkan kawasan ini sebagai ruang rekreasi nonkomersial. Pengembangan ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan penyegaran dan healing, sekaligus mendukung pelestarian sumber daya alam. 

“Tantangan terbesar adalah mengelola jumlah pengunjung agar tidak merusak lingkungan dan memastikan daya dukung kawasan tetap terjaga,” ujar Resti. Untuk itu, media interpretasi seperti papan informasi, booklet, hingga media media dimanfaatkan untuk menyampaikan edukasi tentang sumber daya alam. 

Pengembangan wisata pendidikan ini juga melibatkan masyarakat dan mahasiswa, yakni dengan merancang tata ruang taman dan menjalin kerja sama dengan sekolah sebagai target utama wisatawan edukasi. Hal ini sekaligus mendukung kurikulum kokurikuler sekolah, memperkuat peran IPB University dalam mendidik masyarakat untuk menjaga lingkungan kampus.

“Manfaat jangka panjang dari pengelolaan wisata pendidikan secara berkelanjutan adalah meningkatnya kesadaran dan perilaku positif terhadap biodiversitas, sekaligus memperkuat ikon IPB University sebagai kampus biodiversitas yang mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs),” jelas Resti. (MW)