Support System IPB University untuk Tumbuhkan Daya Tahan dan Kemampuan Adaptasi Mahasiswa

Support System IPB University untuk Tumbuhkan Daya Tahan dan Kemampuan Adaptasi Mahasiswa

support-system-ipb-university-untuk-tumbuhkan-daya-tahan-dan-kemampuan-adaptasi-mahasiswa-
Berita / Pendidikan

IPB University menempatkan resiliensi mahasiswa sebagai fokus utama pengembangan pendidikan. Untuk itu, IPB University memfasilitasi sejumlah supporting system untuk menumbuhkan daya tahan atau kemampuan adaptasi mahasiswa.

“Mahasiswa merupakan populasi terbesar di IPB University. Jumlah student body multistrata per Juli 2025 mencapai 34.219 orang. Maka, resiliensi utama perguruan tinggi terletak pada mahasiswa,” ujar Wakil Rektor bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan, Prof Deni Noviana.

Latar belakang mahasiswa IPB University sangat beragam, mencakup 34 provinsi di Indonesia dengan perbedaan sosial, budaya, maupun ekonomi. Keragaman ini, kata Prof Deni, menuntut kebijakan pendidikan dan kemahasiswaan yang mampu menjaga keberlangsungan studi seluruh mahasiswa.

“Artinya, bagaimana mereka tetap bisa resilien, semua mahasiswa bisa lulus baik dari keluarga mampu maupun tidak mampu. Untuk itu, IPB University menyiapkan supporting system agar tidak ada mahasiswa berhenti kuliah karena faktor ekonomi,” jelasnya.

Supporting system tersebut mencakup skema uang kuliah tunggal (UKT) untuk program sarjana dan sarjana terapan dari Rp 500.000,-/semester hingga kelas tertinggi, ragam beasiswa dari pemerintah maupun alumni, hingga dukungan perusahaan. Prof Deni mengungkapkan bahwa 30 persen mahasiswa program sarjana dan sarjana terapan IPB merupakan penerima beasiswa.

Selain bantuan finansial, IPB University juga memperkuat resiliensi melalui program pembinaan karakter. Sejak 2019, seluruh mahasiswa baru program sarjana dan sarjana terapan mengikuti pemetaan bakat (talent mapping), pelatihan 7 Habits, serta penguatan soft skill dalam rangkaian Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) bahkan mulai tahun 2025 IPB menerapkan talent management.. 

“IPK (indeks prestasi kumulatif) tinggi penting, tapi faktor kesuksesan sejati adalah kejujuran, integritas, disiplin, dan komunikasi.  Mahasiswa dididik untuk memiliki pola pikir bertumbuh (growth mindset), menerapkan pendekatan pembelajaran melalui pemecahan masalah (problem based learning), memberikan pengalaman belajar langsung, berkolaborasi dengan mitra IPB University.   Itu yang kita tanamkan dan didik sejak awal,” tambahnya. 

Dari sisi pendampingan psikososial, IPB University menyediakan layanan bimbingan konseling dosen maupun teman sebaya yang dilatih secara khusus. Program ini terbukti efektif menjawab kebutuhan mahasiswa gen Z yang cenderung lebih nyaman berbagi cerita dengan rekan sebaya. 

Bahkan, lanjut Prof Deni, IPB University menggandeng psikiater dan Agrianita IPB University di asrama mahasiswa untuk memperkuat layanan kesehatan mental. “Setiap Sabtu ada program rutin di asrama, termasuk pendampingan ibu asuh fakultas/sekolah. Kami ingin mahasiswa punya ruang aman untuk berkonsultasi,” ungkapnya.

IPB University juga menjalankan program peningkatan kesejahteraan seperti warung kita dengan membayar Rp10 ribu mendapatkan makanan sehat, lezat dan murah, program buah dan susu gratis setiap hari, serta foodbank. “Resiliensi itu juga soal kebutuhan dasar. Kalau mahasiswa belum sarapan, bagaimana bisa fokus belajar? Maka IPB University menjamin akses pangan murah dan bergizi,” tegasnya.

Dengan berbagai langkah ini, IPB University memastikan tidak ada mahasiswa yang gagal melanjutkan pendidikan hanya karena keterbatasan. “Intinya, kalau sudah masuk IPB University, maka kami punya komitmen penuh untuk mencari solusi. Resiliensi mahasiswa adalah resiliensi perguruan tinggi,” pungkas Prof Deni. (*/Rz)