Sinergi PKSPL IPB University dan PT Amman Mineral untuk Kelestarian Penyu di Gili Balu
Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University berupaya menjaga kelestarian penyu di kawasan Gili Balu, Sumbawa Barat. Salah satunya lewat kolaborasi bersama PT Amman Mineral Nusa Tenggara dengan mengadakan training teknis untuk masyarakat setempat.
Kegiatan diikuti anggota kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas), kelompok sadar wisata (Pokdarwis), dan perwakilan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
“Pelatihan ini memperkuat pemahaman masyarakat tentang pentingnya perlindungan penyu sebagai bagian dari keseimbangan ekosistem pesisir,” ujar Andy Afandy, Wakil Kepala PKSPL bidang Program Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan.
Ia berujar, “Kami juga mendorong masyarakat untuk terlibat aktif dalam menjaga area pendaratan dan peneluran penyu (nesting site) dari gangguan dan perubahan lingkungan.”
Perwakilan PT Amman Mineral Nusa Tenggara menegaskan komitmen untuk mendukung program konservasi laut dan pemberdayaan masyarakat pesisir melalui kemitraan dengan lembaga akademik dan komunitas lokal. Pihaknya percaya bahwa keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat pesisir harus berjalan beriringan.
“Dukungan kami pada kegiatan ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan untuk menjaga ekosistem laut yang menjadi sumber kehidupan bersama,” kata salah satu perwakilan PT Amman Mineral Nusa Tenggara.
Selain pelatihan teknis, kegiatan juga berupa pemasangan modul transplantasi terumbu karang dan penanaman bibit mangrove di wilayah pesisir Poto Tano. Aksi ini dilakukan bersama masyarakat, tenaga ahli PKSPL IPB University, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Mataram (Unram), serta lima peserta internship asal Kanada yang berpartisipasi aktif di lapangan.
Kolaborasi lintas lembaga dan lintas negara ini mencerminkan bahwa upaya menjaga keberlanjutan laut merupakan tanggung jawab bersama di tingkat global.
Salah satu peserta internship, Justin, alumni jurusan Sosiologi dan Kriminologi asal Kanada, menyampaikan kesannya terhadap program yang mengintegrasikan konservasi dengan pemberdayaan masyarakat pesisir.
“Program pemberdayaan masyarakat oleh PKSPL IPB dan PT Amman merupakan inisiatif kuat yang menghubungkan upaya konservasi dengan peningkatan mata pencaharian lokal,” sebutnya.
Bagi Justin, program ini praktis dan memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk melindungi lingkungan sekaligus menghidupi keluarga mereka. “Dari pelatihan penyu, saya belajar bagaimana kolaborasi dan tanggung jawab bersama memperkuat kerja sama dan membuat upaya konservasi lebih efektif,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut PKSPL IPB University juga melaksanakan Impact Assessment dan Outcome Harvesting untuk mengevaluasi capaian serta dampak sosial dan ekologis dari program konservasi di wilayah ini. Hasil evaluasi diharapkan dapat menjadi dasar perbaikan strategi konservasi dan pemberdayaan masyarakat pesisir di masa mendatang.
Konservasi penyu dan rehabilitasi pesisir berpotensi membuka peluang ekonomi baru melalui wisata bahari berbasis konservasi dan penguatan ekonomi lokal berbasis sumber daya laut yang berkelanjutan.
Melalui sinergi antara masyarakat, akademisi, sektor swasta, dan mitra internasional, kegiatan ini menunjukkan bahwa perlindungan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan dapat berjalan beriringan menjadikan Poto Tano sebagai contoh nyata praktik pembangunan berkelanjutan di wilayah pesisir Indonesia. (*/Rz)
