Rayakan World Mental Health Day, FW IPB University Ajak Mahasiswa Bangun Mental Resilience
Bertepatan dengan peringatan World Mental Health Day 2025, Forum Mahasiswa Pascasarjana (FW) IPB University menyelenggarakan Seminar “Mental Resilience” bertema “The Resilient Graduate: Strategi Sukses Menghadapi Tantangan Akademik dan Personal”.
Menurut Firman Soejana, ST, MT, Ketua Umum FW IPB University, kegiatan ini datang dari keresahan akan pentingnya memperhatikan kesehatan mental di tengah tekanan akademik dan permasalahan personal mahasiswa.
Salah satu narasumber, Dr Majariana Krisanti selaku Koordinator Tim Bimbingan Konseling IPB University, menekankan pentingnya manajemen diri dan keseimbangan antara produktivitas dan istirahat.
“Kuncinya ada pada keseimbangan, tahu kapan harus fokus, dan kapan harus berhenti sejenak,” pesannya saat acara di Auditorium Satari, Fakultas Kedokteran, Kampus IPB Dramaga, beberapa waktu lalu.
Dr Majariana menekankan pentingnya manajemen diri dan keseimbangan antara produktivitas dan istirahat. “Kuncinya ada pada keseimbangan, tahu kapan harus fokus, dan kapan harus berhenti sejenak,” pesannya.
Ia menguraikan empat strategi sederhana namun berdampak besar. Pertama, mengatur waktu dan energi, bukan hanya daftar tugas, tapi juga waktu rehat. Kedua, mengembangkan growth mindset. “Ubah ‘aku tidak bisa’ menjadi ‘aku belum bisa’,” sebutnya.
Berikutnya, adalah melatih self-compassion dengan berhenti membandingkan diri. Terakhir, ia berpesan agar melihat kegagalan bukan sebagai akhir, tapi sebagai umpan balik untuk tumbuh.
Sementara itu, dr Lahargo Kembaren, SpKJ, Spesialis Kedokteran Jiwa Rumah Sakit Marzoeki Mahdi mengingatkan bahwa emosi bukan musuh, melainkan sinyal penting dari diri. “Emosi dan stres itu wajar dan alamiah. Setiap emosi punya alasan dan tujuan,” ungkapnya.
dr Lahargo juga mengajak peserta bersama-sama mencoba teknik pernapasan 4-7-8 untuk meregulasi emosi. Teknik ini dilakukan melalui hidung selama 4 hitungan, menahan napas selama 7 hitungan, dan mengembuskan napas melalui mulut selama 8 hitungan.
Ia menutup pemaparan materi dengan pesan reflektif yang menyentuh. “Tidak harus menjadi hebat, yang penting bermanfaat. Tidak mesti menjadi pemenang, yang penting hidup tenang. Manusia diciptakan untuk berguna, bukan untuk menjadi sempurna.” imbuhnya.
Meski memaparkan perspektif berbeda, kedua narasumber sepakat bahwa ketahanan mental bukan sekadar kemampuan menahan tekanan mental, melainkan cara seseorang mampu mengenali, mengelola, dan berdamai dengan dirinya di tengah kompleksitas hidup.
Rizka Annisa Mingka, SMat selaku ketua pelaksana berharap kegiatan ini memberikan manfaat nyata, membuka wawasan baru, serta menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan mengejar prestasi akademik.
“Ingat bahwa kita tidak harus menghadapi semuanya seorang diri, terkadang keberanian justru muncul ketika kita bercerita dan mencari pertolongan. Setiap langkah kecil bisa menjadi bagian penting dari perjalanan untuk pulih dan bangkit kembali,” pesan Rizka.
Bagi siapa pun yang sedang merasa lelah, bingung, atau butuh teman untuk mendengarkan, IPB University memiliki Tim Bimbingan dan Konseling, dengan konselor senior (dosen) dan konselor sebaya (mahasiswa) yang siap membantu. Pendaftaran bisa melalui akun Instagram @tbkipb. (*/Rz)
