Prof Huda S Darusman: Riset Jangan Hanya Fokus Temukan Obat/Vaksin, Ekosistem Industri Biomedis Nasional Butuh Perhatian

Prof Huda S Darusman: Riset Jangan Hanya Fokus Temukan Obat/Vaksin, Ekosistem Industri Biomedis Nasional Butuh Perhatian

prof-huda-s-darusman-sebut-farmakologi-dan-kedokteran-komparatif-jadi-nilai-tambah-sumber-daya-hayati
Ilustrasi (freepik)
Riset dan Kepakaran

Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof drh Huda S Darusman, menegaskan pentingnya pemanfaatan sumber daya hayati Indonesia secara ilmiah, etis, dan berkelanjutan melalui pendekatan farmakologi dan kedokteran komparatif.

Menurut Prof Huda, penguatan riset biomedis di Indonesia tidak hanya berorientasi pada penemuan obat atau vaksin baru, tetapi juga pada pembangunan ekosistem industri biomedis nasional. Industri ini berpotensi besar menjawab berbagai tantangan global, mulai dari penyakit degeneratif akibat peningkatan usia harapan hidup, hingga kebutuhan obat-obatan baru berbasis sumber daya lokal.

“Kita perlu menggabungkan bingkai keilmuan farmakologi dan kedokteran komparatif agar sumber daya hayati Indonesia memiliki nilai tambah yang nyata, baik secara saintifik maupun ekonomi,” ungkap Prof Huda saat menyampaikan orasi pada Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University (25/10).

Ia menjelaskan bahwa kedokteran komparatif merupakan pendekatan multidisiplin yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam satu kerangka One Health. Pendekatan ini memungkinkan para ilmuwan memahami kesamaan biologis antarspesies, sehingga hewan dapat dimanfaatkan sebagai model ilmiah (animal model) dalam penelitian penyakit dan pengembangan obat untuk manusia.

Pemanfaatan satwa primata Indonesia, seperti monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan beruk (Macaca nemestrina), menjadi salah satu contoh penting dalam riset biomedis. Kedekatan taksonomi dan fisiologis primata dengan manusia menjadikannya unggul dalam riset translasi, yaitu tahap penting dari penelitian laboratorium menuju aplikasi klinis.

“Primata memiliki kemiripan genetik dan fisiologis yang tinggi dengan manusia. Dari tingkat molekuler, seluler, hingga organisme, mereka dapat menjadi model yang akurat dalam menguji efektivitas dan keamanan obat,” jelas Prof Huda.

Melalui serangkaian penelitian di IPB University, ia telah membuktikan efektivitas pendekatan biomedis komparatif. Beberapa hasilnya antara lain pengembangan kit deteksi antibodi COVID-19 serta riset bahan aktif pala (Myristica fragrans) yang berpotensi sebagai anti kanker pada sel hewan model. Rangkaian penelitian tersebut menunjukkan bahwa pendekatan ini mampu mempercepat transformasi sumber daya alam menjadi produk farmasi unggulan.

Meski demikian, Prof Huda menekankan pentingnya kaidah etika bioprospeksi, agar eksplorasi sumber daya hayati tidak menimbulkan eksploitasi.

“Setiap pemanfaatan harus memperhatikan aspek etis, moral, saintifik, dan legal. Penggunaan satwa, terutama primata, harus dilakukan secara bertanggung jawab dan berorientasi konservasi,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia berharap adanya sinergi antara akademisi, industri, dan pemerintah untuk memperkuat ekosistem riset serta pengembangan industri biomedis di Indonesia. Dengan penguasaan teknologi di bidang bioteknologi, farmakologi, dan kedokteran komparatif, Indonesia berpeluang besar menjadi pusat inovasi kesehatan di Asia.

“Melalui pendekatan ilmiah yang terukur dan pemanfaatan sumber daya yang beretika, kita dapat mewujudkan industri biomedis yang produktif, berkelanjutan, dan membawa manfaat besar bagi manusia, hewan, serta lingkungan,” pungkasnya. (AS)