Mahasiswa IPB University Kuatkan Jiwa Wirausaha Anak Tunagrahita di Sukabumi Lewat Akuaskap

Mahasiswa IPB University Kuatkan Jiwa Wirausaha Anak Tunagrahita di Sukabumi Lewat Akuaskap

mahasiswa-ipb-university-kuatkan-jiwa-wirausaha-anak-tunagrahita-di-sukabumi-lewat-akuaskap
Student Insight

Mahasiswa Sekolah Vokasi IPB University yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) ‘Tunapren’ menginisiasi sebuah program di Sukabumi. 

Program tersebut berfokus pada penguatan jiwa wirausaha melalui metode Therapeutic Learning Classroom (TLCs) bagi anak tunagrahita di SLB PGRI Cisaat.

Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup anak tunagrahita melalui media kreatif akuaskap: seni menata tanaman air, bebatuan, dan ikan hias dalam akuarium.

Ketua tim, Nirwana Oktavian Nugraha, menjelaskan bahwa metode TLCs dipilih karena memadukan pembelajaran keterampilan dengan pendekatan terapeutik. 

“Anak-anak tunagrahita tidak hanya diajarkan aspek teknis, tetapi juga diarahkan untuk mengembangkan kemandirian, rasa percaya diri, dan kemampuan bekerja dalam kelompok,” jelas Nirwana.

Menurutnya, akuaskap dinilai efektif sebagai sarana belajar karena sederhana, menstimulasi motorik halus, sekaligus berpotensi menjadi peluang usaha berkelanjutan. 

“Selama program, siswa diperkenalkan dengan dasar-dasar akuaskap mulai dari pemilihan wadah, penyusunan batu, penanaman tanaman air, hingga perawatan ikan,” ucapnya.

Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi, terutama saat menyaksikan hasil karya mereka menjadi akuarium bernilai jual. Selain praktik, tim Tunapren juga melatih siswa menghitung biaya produksi sederhana dan menentukan harga jual agar mereka memahami konsep kewirausahaan sejak dini.

Kepala SLB PGRI Cisaat, Sudinta Ghandi, SPd, menyampaikan apresiasi atas program ini. Menurutnya, kegiatan tersebut sangat bermanfaat karena memberikan pengalaman belajar nyata di luar teori kelas. 

“Dengan adanya pelatihan ini, anak-anak bisa belajar mandiri, berkarya, sekaligus berlatih bersosialisasi. Ini penting untuk bekal mereka di masa depan,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, Abuzar, salah satu siswa kelas X, mengungkapkan rasa senangnya. Ia merasa kegiatan ini memberikan wawasan baru tentang komponen akuaskap, ikan hias, dan tanaman air. 

“Kami dibagi ke dalam kelompok sehingga dapat belajar bekerja sama dalam tim,” katanya. 

Dukungan juga datang dari orang tua siswa, Ella Yuliana, yang menilai program ini telah membantu anaknya menghasilkan karya bernilai guna sekaligus bernilai ekonomi.

Lebih lanjut, tim PKM-PM turut melibatkan guru pendamping agar metode TLCs dapat berlanjut setelah program berakhir. Diharapkan, akuaskap bisa dijadikan kegiatan keterampilan rutin, bahkan dikembangkan menjadi produk khas sekolah untuk dipasarkan ke masyarakat. (**/dr)