IPB University Ajak Pulang ke Dapur untuk Wujudkan Ketahanan Pangan Berkelanjutan
Dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia, Tani Nelayan Center (TNC) menggelar web series #TNCTalks yang menghadirkan berbagai narasumber untuk menggali kearifan budaya pangan lokal.
Acara ini dibuka oleh Wakil Rektor bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Agromaritim Prof Ernan Rustiadi dan Kepala TNC IPB University Prof Hermanu Triwidodo, serta diikuti oleh 327 peserta melalui Zoom dan YouTube (16/10).
Dalam sambutannya, Prof Hermanu menekankan bahwa pangan harus dipahami dari sisi kebudayaan, bukan sekadar pemenuhan kalori. Menurutnya, pangan adalah bagian dari identitas Nusantara yang kini semakin homogen akibat modernisasi. Ia berharap diskusi ini dapat mengingatkan pentingnya keanekaragaman pangan untuk mencapai kedaulatan dan ketahanan pangan nasional.
Prof Ernan menambahkan, sejak Revolusi Hijau, teknologi memang berhasil mematahkan ramalan Thomas Malthus tentang “katastrofe” (malapetaka besar yang terjadi tiba-tiba) akibat kekurangan pangan. Namun, kemajuan itu menimbulkan persoalan baru, seperti ketergantungan pada sistem produksi tunggal dan menurunnya keragaman hayati.
“Sebagian kalangan percaya, kunci ketahanan pangan justru terletak pada keanekaragaman pangan kita sendiri,” tegasnya.
Diskusi kemudian dilanjutkan oleh Said Abdullah, peneliti dan pegiat kedaulatan pangan. Ia menyoroti bahwa makan bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan hubungan spiritual antara manusia dan Sang Pencipta.
“Kita sering lupa siapa yang menanam dan mengolah makanan kita,” ujar Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan ini.
Ia turut mengutip filosofi gerakan Slow Food: “Makan adalah tindakan pertanian. Memilih pangan lokal berarti memilih masa depan.” Menurutnya, kemerdekaan sejati dimulai ketika manusia mampu makan dari hasil tanahnya sendiri.
Sementara itu, JJ Rizal mengulas bagaimana politik pangan menjadi fondasi perjuangan bangsa sejak masa kolonial. Ia menjelaskan bahwa kelaparan di masa Hindia Belanda memicu kesadaran nasional untuk memperjuangkan kedaulatan pangan.
“Keselamatan bangsa ada di dapur-dapur lokal. Selama dapur ngebul, bangsa ini masih besar,” ujarnya. Rizal menilai, dapur bukan hanya ruang memasak, melainkan simbol kekuatan peradaban yang menjaga kehidupan bangsa.
Dari perspektif budaya, Wilda Yanti Salam mengangkat filosofi dapur dalam masyarakat Bugis yang disebut dengan “Makkalu Dapureng“ atau proses melekatkan dapur.
“Filosofi ini menunjukkan bahwa dapur menjadi titik tumpu di dalam satu keluarga, jadi ketika seseorang berpindah, yang paling utama adalah mereka akan memindahkan dapurnya,” jelasnya.
Ia juga menyorot generasi muda yang kini mulai kehilangan kedekatan dengan proses memasak dan nilai sosial di balik pangan.
Rizal menutup paparan dengan pesan reflektif. “Kita hidup dijalani ke depan, tapi dipahami ke belakang. Pulanglah ke dapur setiap rumah, karena di sanalah masa depan bangsa dimasak, lalu mulailah dari lidah mu, untuk terus membuat dapurmu bersinergi dan ngebul.” (Ez)
