Eksplorasi Jamur Liar di Kampus IPB University, Dosen: Potensial jadi Agen Bioremediasi dan Pangan Fungsional

Eksplorasi Jamur Liar di Kampus IPB University, Dosen: Potensial jadi Agen Bioremediasi dan Pangan Fungsional

eksplorasi-jamur-liar-di-kampus-ipb-university-dosen-potensial-jadi-agen-bioremediasi-dan-pangan-fungsional
Foto: Ivan Permana Putra
Riset dan Kepakaran

Di balik rimbunnya hutan dan area hijau di IPB University, tersembunyi kekayaan hayati yang bukan sekedar pemandangan. Banyak hal yang bisa dieksplor untuk membuktikan bahwa Indonesia sebagai negara megabiodiversitas, salah satunya adalah jamur liar. 

Organisme ini sering terlupakan, namun kini menjadi fokus penelitian krusial, terutama oleh para pakar di IPB University. Dr Ivan Permana Putra, dosen sekaligus peneliti di bidang mikologi (ilmu jamur), telah memimpin eksplorasi jamur liar di kawasan kampus sejak tahun 2015.

Dr Ivan menjelaskan bahwa meskipun Indonesia secara luas diakui akan keanekaragaman hayatinya, data spesifik yang bisa membuktikan mengenai spesies jamur masih sangat minim dibandingkan dengan estimasi global. 

Komitmen IPB University terhadap penelitian ini semakin kuat dengan adanya Divisi Mikologi. Hal ini menempatkan IPB University sebagai trendsetter dalam ilmu jamur di Indonesia. 

Eksplorasi yang dilakukan Dr Ivan dan timnya telah menemukan potensi besar jamur liar dari lingkungan kampus. Salah satu temuan paling menarik adalah perannya sebagai agen agen bioremediasi atau pembersih lingkungan alami.

“Dalam sebuah penelitian, berhasil diidentifikasi satu jenis jamur, Favolus, yang menunjukkan kemampuan luar biasa untuk menyerap logam berat berbahaya seperti timbal (Pb). Penemuan ini membuka jalan baru untuk memanfaatkan biodiversitas kampus dalam penanganan lahan tercemar, misalnya bekas tambang,” sebut Dr Ivan.

Di samping perannya sebagai penyelamat lingkungan, jamur liar di IPB University juga menjanjikan solusi untuk tantangan pangan global. Banyak dari jamur yang dieksplorasi berpotensi menjadi sumber pangan fungsional karena dikenal analog daging yang tinggi serat dan rendah kolesterol, mendukung upaya mencapai ketahanan pangan dan target zero hunger.

Lebih dari sekadar hasil laboratorium, keragaman jamur juga menjadi cermin kesehatan ekosistem IPB University secara keseluruhan. Kehadiran lichen (lumut kerak) yang tumbuh subur dan melimpah di area kampus merupakan indikator kuat bahwa lingkungan IPB University minim polusi udara. 

“Kunci dari Kampus Biodiversitas adalah keragaman. Kalau beragam, tempat tersebut sehat dan seimbang,” tutup Dr Ivan.

Melalui eksplorasi yang sistematis dan kolaboratif, IPB University tidak hanya mempertahankan statusnya sebagai Kampus Biodiversitas, tetapi juga mengukuhkan perannya sebagai laboratorium alam yang konsisten menghasilkan inovasi ilmiah. 

Penelitian jamur ini membuktikan bahwa jawaban atas tantangan lingkungan dan pangan modern sering kali berada tepat di depan mata, di tengah kekayaan hayati kampus sendiri. (Ez)