RISS-AIST Jepang Jajaki Kerja Sama dengan PPLH IPB University Teliti Bambu di Indonesia

RISS-AIST Jepang Jajaki Kerja Sama dengan PPLH IPB University Teliti Bambu di Indonesia

riss-aist-jepang-jajaki-kerja-sama-dengan-pplh-ipb-university-teliti-bambu-di-indonesia
Berita / Riset dan Kepakaran

Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH), Lembaga Riset Internasional, Lingkungan dan Perubahan Iklim (LRI LPI) IPB University menerima kunjungan delegasi dari Research Institute of Science for Safety and Sustainability (RISS) 

RISS merupakan lembaga riset bagian dari National Institute of Advanced Industrial Science and Technology (AIST) yang berpusat di Tsukuba, Jepang. Tim delegasi langsung diterima dan disambut oleh Kepala PPLH, Dr Yudi Setiawan bersama Sekretaris Pusat, Dr Liyantono bertempat di Gedung PPLH, Kampus IPB Dramaga.

Perwakilan RISS-AIST, Dr Kazuya Inoue menyampaikan ketertarikannya untuk meneliti bambu secara luas di Indonesia. Hal ini dilatarbelakangi oleh penelitian timnya di Jepang yang menemukan korelasi antara peningkatan suhu bumi dan kenaikan jumlah kadar isoprena yang ditemukan di atmosfer.

Isoprena sendiri adalah senyawa organik volatil (VOC) yang dihasilkan secara alami oleh tumbuhan dan juga diproduksi secara sintetis melalui pemrosesan minyak bumi dan batu bara. Isoprena yang dipancarkan oleh tumbuhan dapat berkontribusi pada pembentukan ozon di atmosfer.

Dr Kazuya Inoue menyampaikan ada tiga hal yang ingin dikajinya lebih dalam untuk terkait status hutan bambu di Indonesia. Pertama apakah terjadi ekspansi atau penurunan jumlah tegakan atau luasan hutan bambu. Kedua, apakah tipe bambu yang tumbuh dan berkembang mengeluarkan jenis VOC seperti isoprene? Ketiga, peluang penelitian kolaborasi internasional yang mungkin dilakukan.

“Kami ingin mengetahui kemungkinan tersebut untuk dikaji lebih lanjut,” ungkap Dr Kazuya Inoue.

Kepala PPLH IPB University, Dr Yudi Setiawan menyampaikan bahwa hamparan bambu dalam jumlah yang luas jarang dijumpai di Indonesia. Akan tetapi, di daerah tertentu seperti Pulau Flores masih memiliki beberapa hamparan bambu yang cukup luas untuk pelaksanaan riset. Kebun Raya Bogor juga memiliki koleksi sejumlah jenis bambu yang dapat diteliti. 

“Ekosistem bambu di Indonesia umumnya bersifat patchy dalam spot tertentu. Kondisi ini dapat dianalisis dengan citra satelit yang lebih detail dengan resolusi tinggi karena bentuk kanopi dari daun bambu dan jenis pohon lain masih dapat dibedakan,” ungkap pakar penginderaan jauh IPB University tersebut.

Pakar biomaterial produk kehutanan, Prof Lina Karlinasari yang hadir juga menyampaikan penelitian bambu yang pernah ia lakukan bersama mahasiswa bimbingan di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Di lokasi ini, tanaman bambu sangat dijaga keberlangsungannya karena merupakan komoditas yang multimanfaat. 

“Keunikan bambu di Indonesia adalah pola pertumbuhannya yang bersifat simpodial, yakni batang utama akan berhenti tumbuh, karena perkembangan tunas atau cabang baru di ujungnya. Hal ini berbeda dengan pola pertumbuhan bambu di Jepang atau China yang umumnya bersifat monopodial,” ungkap Prof Lina yang juga Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University.

Turut hadir pada pertemuan tersebut peneliti muda PPLH IPB University, Luisa Febrina Amalo dan Fikri Sakti Firmansyah; dosen Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Amrina Rosyada; serta Prof Takahashi Takuya dari School of Environment Science, Department of Environmental Policy and Planning, The University of Shiga Prefecture. (*/Rz)