Genus 2025 Jadi Pionir Event Budaya Ramah Lingkungan di IPB University
Gebyar Nusantara (Genus) 2025 menjadi tonggak baru penyelenggaraan sustainable event di IPB University. Tidak hanya hadir sebagai perayaan budaya, kegiatan ini mengintegrasikan pelestarian budaya dengan praktik ramah lingkungan yang sejalan dengan semangat keberlanjutan.
Pada momen pembukaan, Rektor IPB University, Prof Arif Satria, menyampaikan apresiasinya kepada mahasiswa atas terselenggaranya Genus tahun ini. Menurutnya, kegiatan ini merupakan ikhtiar penting dalam merawat kebhinekaan di lingkungan kampus.
Ia juga menyebut alam dapat menjadi inspirasi dalam membangun kebudayaan bangsa. Alam, kata dia, sesungguhnya mengajarkan manusia tentang kebudayaan.
“Alam memiliki sifat keragaman, saling ketergantungan, serta jejaring,” pesan Prof Arif dalam Pembukaan Genus 2025 yang mengusung tema “Lestari Budaya Harmoni Nusantara” di Lapangan Telaga Inspirasi, Kampus IPB Dramaga, Bogor (12/9).
Lanjutnya, “Kita tidak pernah memupuk hutan, tapi hutan bisa tumbuh dengan sejumlah pohon dan tanaman. Kita juga tidak pernah memberi makan ikan di laut, tetapi ikan di laut bisa hidup. Kenapa? Karena alam punya cara kerja sendiri.”
Indonesia dianugerahi keragaman yang tinggi, baik biodiversity maupun social diversity. Keragaman ini, sebut Prof Arif, merupakan anugerah besar bagi bangsa Indonesia.
“Dengan keragaman tersebut, kita harus berjejaring, saling tergantung, dan saling mendukung. Setiap kebijaksanaan dan kearifan dari berbagai etnik adalah potensi yang harus terus kita jaga,” tutur Prof Arif.
Sementara itu, Noel Alvaro Sitanggang, mahasiswa Program Studi Aktuaria angkatan 60 sekaligus ketua pelaksana Genus 2025, menekankan bahwa Genus tahun ini tidak hanya menampilkan kemeriahan budaya Nusantara, tetapi juga menerapkan prinsip sustainable event.
“Fokus Genus tahun ini ada tiga, yaitu pengelolaan sampah, penghitungan emisi karbon, dan transportasi. Semua itu nantinya akan dihitung dan dipublikasikan sebagai komitmen keberlanjutan,” jelasnya.
Menurut Noel, sampah yang dihasilkan selama kegiatan akan dipilah menjadi tiga kategori sebelum dilakukan penghitungan akhir. Selain itu, panitia juga menghitung potensi emisi karbon, baik dari aktivitas acara maupun penggunaan transportasi oleh panitia dan peserta.
“Nanti setelah rangkaian kegiatan selesai, kita akan menghitung total emisi dan sampah yang dihasilkan sehingga Genus benar-benar dapat diklaim sebagai sustainable event,” tambahnya.
Genus 2025 diikuti oleh 20 organisasi mahasiswa daerah (Omda) dengan beragam rangkaian kegiatan. Acara dibuka dengan Icon Costume dan Karnaval Kebudayaan dalam kegiatan Jalan Pagi Sehat (Japas).
Selanjutnya, terdapat Putra Putri Omda (Papi Day) yang puncaknya akan digelar pada 25 Oktober di Graha Widya Wisuda (GWW), serta Kuliner Nusantara dan Stand Kebudayaan pada 25–26 Oktober. Puncak kegiatan ditutup dengan Festival Kebudayaan sekaligus pengumuman juara pada 26 Oktober di GWW.
“Harapannya, Genus 2025 dapat memberi nilai edukasi, hiburan, dan inspirasi bagi seluruh peserta dan pengunjung,” pungkas Noel. (AS)

