Rabuan Bersama, Rektor: IPB University Telah Wujudkan Dampak untuk Masyarakat dan Industri
Rektor IPB University, Prof Arif Satria memaparkan Laporan Capaian Kinerja IPB Semester 1 tahun 2025 dalam Rabuan Bersama yang digelar secara daring (13/8). Pada acara tersebut, Prof Arif menegaskan komitmen IPB University sebagai institusi yang mampu menciptakan nilai bagi masyarakat dan industri.
“Kami ingin membangun IPB University yang tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga mampu memberi dampak nyata, menghadirkan solusi, dan menciptakan nilai di tengah masyarakat serta dunia usaha,” ujarnya.
Berdasarkan milestone IPB 2024–2028, tema utama IPB University tahun 2025 adalah “Innopreneurship and Value Creation for Community and Industry”. Prof Arif memaparkan bahwa seluruh program strategis IPB University diarahkan untuk menjawab tantangan tersebut.
Sejumlah program telah dirancang untuk memperkuat peran IPB University di masyarakat dan industri. Mulai dari hilirisasi riset, inovasi pertanian, hingga pengabdian berbasis teknologi.
Sejak 2018, berbagai program IPB University telah menjangkau 6.675 desa, sedangkan One Village One CEO (OVOC) menempatkan dosen dan mahasiswa untuk memimpin transformasi ekonomi di 1.430 desa.
Beberapa startup mahasiswa yang dibina melalui program OVOC juga telah berhasil menembus pasar ekspor, seperti ke Singapura, Malaysia, India, Pakistan, dan Bangladesh. “Kita ingin mahasiswa siap bekerja sekaligus mampu menciptakan lapangan kerja. Itulah bentuk nyata value creation yang kita dorong,” ujarnya
Program Data Desa Presisi kini sudah diterapkan di 1.239 desa/kelurahan. Ia mendorong metode ini dapat menjadi program nasional untuk perencanaan pembangunan berbasis big data.
“Inovasi yang kita hasilkan tidak berhenti di kampus, tapi sampai ke desa-desa, ke petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil agar mereka bisa naik kelas,” tegasnya.
Di tingkat global, capaian IPB University juga meningkat. Berdasarkan QS World University Rankings, IPB University melonjak dari peringkat 751–800 pada 2018 menjadi 399 dunia pada 2025, bahkan menempati peringkat 49 dunia dan pertama di Asia (by Subject Agriculture and Forestry).
IPB University juga kian memperkuat jaringan kerja sama internasional, termasuk dengan Kyoto University, Wageningen University, UC Davis, National University of Singapore,, Erasmus+, dan KOICA. Kolaborasi berfokus pada riset pangan, lingkungan, dan teknologi berkelanjutan. “Kolaborasi dengan industri dan universitas dunia membuat inovasi kita lebih relevan dan berdaya saing,” jelasnya.
Di bidang pendidikan, IPB University merekonstruksi kurikulum menjadi K2025 untuk selalu merespons terhadap dinamika perubahan. Kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE) ini mulai diterapkan Agustus 2025 dengan fokus membekali mahasiswa keterampilan yang dibutuhkan industri masa depan.
IPB University juga menyiapkan jalur kewirausahaan dari perencanaan bisnis, pendampingan, hingga inkubasi di Lembaga Kawasan Sains dan Teknologi (LKST).
“Semua upaya ini kami lakukan untuk memastikan IPB University menjadi kampus yang berdampak, yang tidak hanya mencetak lulusan berkompeten, tetapi juga agen perubahan bagi kemajuan bangsa,” pungkas Prof Arif.
Selanjutnya, para Wakil Rektor dan Sekretaris Institut memaparkan secara lebih rinci capaian serta program yang dijalankan di tiap bidang. (Fj)

