Prof Suwardi: 82 Persen Daratan Indonesia Lahan Marginal, Inovasi Teknologi Tanah Jadi Kunci Pemulihan

Prof Suwardi: 82 Persen Daratan Indonesia Lahan Marginal, Inovasi Teknologi Tanah Jadi Kunci Pemulihan

Prof Suwardi 82 Persen Daratan Indonesia Lahan Marginal, Inovasi Teknologi Tanah Jadi Kunci Pemulihan
Ilustrasi lahan marginal (bbppkupang.bppsdmp.pertanian.go.id)
Riset dan Kepakaran

Inovasi teknologi tanah dinilai menjadi kunci untuk mengubah jutaan hektare lahan marginal di Indonesia menjadi sumber pangan produktif dan berkelanjutan. Hal ini disampaikan Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Suwardi.

Setiap tahun, sekitar 140 ribu hektare lahan pertanian produktif hilang akibat alih fungsi menjadi kawasan industri, perumahan, dan infrastruktur, mengancam ketahanan pangan nasional. 

“Saat ini, hampir 82 persen daratan Indonesia atau sekitar 157 juta hektare tergolong lahan marginal dengan produktivitas rendah akibat kendala fisik, kimia, dan biologi tanah,” ungkapnya Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Kamis (14/8).

Ia menegaskan bahwa teknologi tanah memegang peran sentral dalam pertanian regeneratif. Sistem ini dapat memulihkan kesehatan tanah, meningkatkan keanekaragaman hayati, menjaga kestabilan iklim, dan memproduksi pangan secara berkelanjutan.

“Jika gurun di belahan dunia lain dapat dihijaukan, lahan marginal Indonesia pun bisa dipulihkan,” kata dia optimistis.

“Kuncinya adalah memadukan inovasi teknologi tanah, kemauan politik, dukungan industri, dan partisipasi aktif petani,” lanjut Prof Suwardi.

Lebih dari dua dekade ia meneliti, ia telah menghasilkan inovasi pemulihan tanah, seperti penggunaan kompos, kapur, biochar, bahan humat, dan zeolit. Kombinasi teknologi ini membuah hasil positif.

“Teknologi ini terbukti meningkatkan hasil padi di tanah sulfat masam di Jambi dari 1–2 ton/ha menjadi 5–6 ton/ha, serta mengoptimalkan lahan gambut dan bekas tambang untuk kelapa, kelapa sawit, dan hutan tanaman industri,” ungkapnya.

Inovasi pemupukan seperti pupuk NPK–Zeolit berbasis Controlled Release Fertilizer (CRF) mampu meningkatkan hasil berbagai komoditas hingga 10–15 persen dibanding pupuk konvensional. Teknologi zeoponik bahkan memungkinkan tanaman bertahan hingga tiga minggu tanpa penyiraman intensif.

Menurutnya, ‘Teknologi ini sangat membantu memulihkan hara pada tanah masam dan memulihkan degradasi bahan organik. Pengelolaannya juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman sehingga tercapai efisiensi nutrisi yang lebih baik.”

Manfaat teknologi tanah bersifat strategis, yakni dapat mengurangi tekanan pada lahan subur, meningkatkan kapasitas produksi nasional, serta memperbaiki kesejahteraan petani di daerah terpencil. 

“Kesehatan tanah adalah cerminan kesehatan bangsa. Tanah yang sehat menghasilkan pangan berkualitas, mensejahterakan petani, dan memperkuat kedaulatan pangan,” tegas Prof Suwardi.

Meski potensinya besar, ia menyebut penerapan teknologi tanah masih terkendala sejumlah hal. Antara lain biaya yang tinggi, keterbatasan kapasitas teknis petani, dan kebijakan yang belum terintegrasi lintas sektor. 

Untuk itu, Prof Suwardi merekomendasikan kolaborasi publik–swasta, pendidikan petani, serta pemanfaatan teknologi digital seperti Internet of Things (IoT) dan Decision Support System (DSS) untuk memastikan keberhasilan transformasi lahan marginal menuju pertanian regeneratif.

“Petani lokal juga mesti berkolaborasi dengan perusahaan besar, misalnya pada pengelolaan kebun sawit di lahan gambut agar posisinya tidak tersingkirkan,” tutupnya. (MW)