Pakar IPB University Ungkap Potensi Besar Daun Dewa sebagai Komoditas Herbal Unggulan
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Sandra Arifin Aziz, menegaskan bahwa daun dewa (Gynura pseudochina) memiliki potensi sangat besar untuk menjadi komoditas herbal unggulan Indonesia.
Menurutnya, sebagai tanaman asli Indonesia dan Asia Tenggara, daun dewa sudah adaptif dengan lingkungan tropis, sehingga budi dayanya lebih mudah dibanding tanaman herbal introduksi dari luar negeri.
“Kalau tanaman itu berasal dari daerah tersebut, berarti dia sudah cocok untuk tempat itu. Untuk tanaman obat, ini sangat menguntungkan,” ujar Prof Sandra.
Ia menjelaskan, daun dewa dikenal memiliki berbagai manfaat, di antaranya antikanker, antiradang, penurun tekanan darah, pengendali gula darah, pengobatan stroke, dan penyembuhan luka.
Di Tiongkok Selatan, tanaman ini dikenal dengan nama Samchit dan dikonsumsi dengan aturan tradisional, misalnya tiga lembar selama tujuh hari atau tujuh lembar selama tiga hari untuk meredakan batuk.
Meski memiliki khasiat yang dipercaya secara turun-temurun, Prof Sandra menekankan bahwa pengolahan tanaman herbal harus tepat agar kandungan bahan aktifnya terjaga.
“Yang terbaik selalu segar, langsung dikunyah. Kalau tidak memungkinkan, bisa dikukus, direbus, atau dikeringkan. Namun sayuran dan buah segar tetap lebih baik dibanding yang sudah diproses,” katanya saat ditanya cara terbaik untuk mengonsumsi daun dewa.
Ia juga mengungkap bahwa produksi dalam skala industri memerlukan penanaman dalam jumlah besar, terutama jika dilakukan ekstraksi untuk menghasilkan produk herbal siap konsumsi seperti teh atau kapsul. Dalam proses itu, dibutuhkan tanaman dengan kadar bahan aktif lebih tinggi.
Hingga kini, penelitian daun dewa di IPB University baru sampai tahap budi daya dan analisis kandungan bioaktif seperti total flavonoid, alkaloid, dan terpenoid. Formulasi fitofarmaka atau obat herbal terstandar dari daun dewa belum sampai tahap uji klinis.
“Kalau budi dayanya, saya sudah kerjakan sejak lebih dari sepuluh tahun lalu. Tapi untuk formulasi obat, itu biasanya dikerjakan di Pusat Studi Biofarmaka Tropika,” ujar Prof Sandra.
Menurutnya, teknik budi daya daun dewa relatif sederhana. Tanaman tahunan ini dapat diperbanyak dengan stek batang atau umbi, dan mulai dapat dipanen setelah berumur enam bulan. “Potong saja batangnya, pastikan ada buku batang yang masuk tanah. Dari situ tunas baru akan tumbuh,” terangnya.
Meski riset ilmiah terhadap daun dewa masih terus berlanjut, Prof Sandra optimis tanaman ini memiliki masa depan cerah dalam pengembangan herbal Indonesia. “Kita sudah tahu khasiatnya dari zaman dulu. Tinggal bagaimana kita membudidayakan, menstandarkan, dan mengolahnya menjadi produk yang aman dan teruji,” ucapnya. (dr)
