Momentum Hari Gajah, Pakar Konservasi IPB University Soroti Mitigasi Konflik Manusia-Gajah
Menyambut Hari Gajah yang diperingati setiap 12 Agustus, pakar konservasi satwa liar dari IPB University, Prof Burhanuddin Masyud, menekankan pentingnya upaya mitigasi konflik antara manusia dan gajah.
Seruan ini muncul menyusul insiden tragis anak gajah mati tertabrak truk di Perak, Malaysia (11/5), serta kasus serupa di Tol Pekanbaru–Dumai, Indonesia beberapa waktu lalu. Kedua kasus tersebut menjadi peringatan atas tingginya risiko akibat tumpang-tindih antara habitat satwa liar dan infrastruktur manusia.
Ikatan Sosial Gajah
Terkait insiden di Malaysia, Prof Burhanuddin menyoroti perilaku alami gajah yang menunjukkan ikatan sosial kuat.
“Respons induk gajah menyerang truk yang menabrak anaknya menunjukkan insting alami dan ikatan sosial kuat pada gajah. Secara umum, gajah dikenal sebagai satwa liar dengan insting perlindungan tinggi terhadap anaknya,” jelasnya pada (8/8).
Pendekatan “Hidup Berdampingan”
Menurut Prof Burhanuddin, konsep koeksistensi manusia dan gajah seperti yang diterapkan di koridor Pekanbaru–Dumai adalah bentuk konservasi realistis yang dapat dikembangkan.
“Pendekatan ini integratif, apalagi gajah dekat dengan manusia. Contohnya, penggunaan gajah jinak untuk mengendalikan gajah liar sekaligus diintegrasikan dengan wisata, ” tuturnya.
Ia juga mengapresiasi pembangunan terowongan lintasan gajah di Tol Pekanbaru–Dumai sebagai solusi konkret mitigasi konflik.
“Ini adalah alternatif mitigasi konflik di perbatasan habitat gajah dan kawasan masyarakat. Gajah memiliki pola pergerakan alami berulang sesuai musim, sehingga infrastruktur seperti ini penting untuk direplikasi di lokasi lain,” ujarnya.
Prof Burhanuddin menambahkan bahwa risiko serupa juga ditemukan di jalan lintas Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, yang menghubungkan Provinsi Lampung dan Bengkulu.
Ia juga menunjukkan hasil penelitian disertasi mahasiswa bimbingannya terkait model pengembangan “hidup berdampingan” di wilayah Aceh. Penelitian tersebut merumuskan rekomendasi pendekatan mitigasi konflik gajah yang masuk areal perkebunan masyarakat.
“Hasi riset tersebut menunjukkan, masyarakat dapat memilih tanaman perkebunan berbasis preferensi gajah. Secara budaya, kerusakan tanaman oleh gajah bisa dianggap sebagai ‘amal sholeh’, selama tidak menimbulkan kerugian ekonomi signifikan,” katanya.
Prioritas Kebijakan Mitigasi Konflik
Prof Burhanuddin menekankan pentingnya kebijakan mitigasi yang sistematis dan kolaboratif. Ia merekomendasikan dua langkah prioritas. Pertama, implementasi UU No 32 Tahun 2024 tentang Areal Preservasi (koridor satwa) secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Kedua, pengembangan pusat konservasi gajah sebagai lembaga konservasi eks situ yang berfungsi untuk pelestarian sekaligus wisata edukasi.
Menutup pernyataannya, Prof Burhanuddin menegaskan bahwa pelestarian gajah Sumatera yang kini terancam punah hanya dapat dicapai melalui pendekatan kolaboratif dan inovatif.
“Konservasi tidak boleh berdiri sendiri. Kita harus mampu menyelaraskan pembangunan dan kelestarian alam secara seimbang,” pungkasnya. (Fj)
