IPB University: Isu Kesehatan Tanah Jadi Tantangan Landscape Modern

IPB University: Isu Kesehatan Tanah Jadi Tantangan Landscape Modern

IPB University Isu Kesehatan Tanah Jadi Tantangan Landscape Modern
Berita

Sebagai bentuk dorongan terhadap pentingnya riset dalam pembangunan lanskap yang berkelanjutan, Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian IPB University menggelar International Symposium for Sustainable Landscape Development.

Dalam acara yang digelar di Auditorium Toyib Hadiwijaya, Kampus IPB Dramaga (6/8), Rektor IPB University, Prof Arif Satria menegaskan pentingnya pendekatan regeneratif dalam arsitektur lanskap. Hal itu sebagai respons terhadap tantangan global seperti perubahan iklim, degradasi tanah, dan keberlanjutan lingkungan.

“Kini kita menghadapi tantangan serius, perubahan iklim, pemanfaatan lahan yang tidak berkelanjutan, dan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam membangun lanskap yang lebih sehat dan adaptif,” ujar Prof Arif.

Lebih lanjut, isu terkait kesehatan tanah menjadi tantangan utama yang harus dihadapi arsitektur lanskap modern. “Dulu arsitektur lanskap dianggap sekadar berkebun atau estetika ruang, tapi kini telah berevolusi menjadi bidang yang erat kaitannya dengan isu sosial, ekonomi, dan teknologi.” 

“Kita berbicara soal dinamika populasi, isu pembangunan regional, bahkan politik,” tegasnya lagi.

Selain itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi internasional dan pertukaran pengetahuan sebagai bagian dari komitmen IPB University dalam mendorong arsitektur lanskap menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

“Saya ingin ini menjadi momen untuk membuka cakrawala internasional dan saya mendorong kolaborasi bermakna demi masa depan bersama,” pungkas Prof Arif.

Sejalan dengan itu, Ketua Departemen Arsitektur Lanskap IPB University, Dr  Akhmad Arifin Hadi menegaskan bahwa saat ini riset-riset terkait lanskap masih minim, baik di Indonesia maupun di tingkat global.

“Banyak pembangunan yang tidak memperhatikan riset mengenai lanskap, sehingga akhirnya terbengkalai. Hal ini sering terjadi di kota-kota baru maupun daerah perdesaan,” ujar Dr Arifin.

Ia menambahkan, selain menjadi ruang diskusi akademik, kegiatan ini juga menjadi wadah penguatan kerja sama internasional, serta upaya untuk mengampanyekan pentingnya riset lanskap kepada pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya

“Kami tidak bisa melaksanakan riset lanskap sendirian. Kolaborasi dengan profesor dan universitas luar negeri sangat penting,” jelasnya.

Saat ini, IPB University menjalin kerja sama internasional dengan universitas ternama seperti Chiba University, Kyoto University, Warsaw University of Technology, Universiti Putra Malaysia, dan University of the Philippines Diliman. Kerja sama mencakup pertukaran mahasiswa, dosen, dan program double degree. 

“Enam dosen telah dikirim ke Polandia, dan enam dosen Polandia akan berkunjung ke Indonesia. Dua mahasiswa telah mengikuti program double degree di Kyoto University. IPB University juga merencanakan peluncuran kelas internasional S2 Arsitektur Lanskap, dengan target mengirim 12 mahasiswa ke Polandia tahun depan,” tutupnya. (AS)