IPB University dan BGN Teken MoU Bangun Center of Excellence Gizi Nasional
IPB University dan Badan Gizi Nasional (BGN) resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk kelanjutan pembangunan Center of Excellence (CoE) Pemenuhan Gizi Nasional. Penandatanganan ini dilakukan di Gedung Startup Center, Kampus IPB Taman Kencana, Bogor (31/7).
“Kami berharap proses pendirian bangunan COE dapat segera dimulai sehingga pada November ini fasilitas baru tersebut dapat digunakan. Nantinya, fasilitas ini akan menjadi pusat latihan, pembinaan, riset, dan pemikiran strategis untuk penyempurnaan program gizi nasional,” jelas Rektor IPB University, Prof Arif Satria.
Ia juga menyampaikan, bidang ilmu yang dikembangkan IPB University terkait erat dengan ekosistem pemenuhan gizi. Hal inilah yang menjadi landasan kerja sama ini.
“Suplai pangan itu sangat bergantung pada kegiatan pertanian, perikanan, dan peternakan. Peran kita ada dalam pengembangan sumber daya manusia dan proses yang menunjang ketahanan gizi nasional,” jelasnya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, IPB University juga mendapat tugas mendidik ribuan Sanitarian Petugas Penyuluh Gizi Indonesia (SPPI). “Setiap batch, kita mendidik hingga seribu SPPI yang datang ke kampus. Kita bersama Universitas Pertahanan (Unhan) mendidik calon-calon petugas yang akan mendampingi dapur-dapur di berbagai daerah,” ujarnya.
Selain itu, IPB University baru saja meluncurkan program profesi nutrisionis, sebagai kelanjutan dari jenjang sarjana gizi. Prof Arif menjelaskan, nutrisionis akan menjadi tenaga profesional bersertifikat yang ditugaskan untuk memberikan konsultasi gizi.
“Jadi setelah sarjana gizi, ada satu tahun profesi namanya nutrisionis. Ini adalah tenaga profesional yang memang ditugaskan untuk menjadi konsultan,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Kepala BGN, Dr Dadan Hindayana mengatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berkembang pesat. Ia menjelaskan bahwa sejak dicanangkan pada 15 Agustus 2023, kini MBG telah digulirkan ke seluruh Indonesia.
“MBG di-roll out pada 6 Januari 2025, dan alhamdulillah perkembangannya sangat luar biasa,” ujarnya.
Saat ini, menurut Dr Dadan, BGN telah melayani warga di 38 provinsi, mencakup 502 kabupaten. Menurut data terbaru, ia memaparkan program ini sudah masuk ke hampir 67 persen kecamatan di Indonesia.
Lebih lanjut ia menjelaskan, MBG telah dinikmati oleh 7,6 juta anak-anak, melebihi target awal. Sebagai perbandingan, Dr Dadan menggambarkan capaian itu setara dengan memberi makan seluruh populasi aktif di Singapura.
“Kalau di Singapura, ini sudah memberi makan seluruh yang beraktivitas di Singapura,” ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa jika dibandingkan dengan negara lain, program ini bahkan sebanding dengan memberi makan seluruh penduduk Finlandia atau Denmark.
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa target program masih panjang. Dengan laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang mencapai 6 orang per menit atau 3 juta per tahun, Dr Dadan menegaskan urgensi percepatan program ini.
“Dan seperti kita tahu, penduduk Indonesia masih tumbuh 6 orang per menit, 3 juta per tahun dan masih akan tumbuh mencapai 324 juta di tahun 2045,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa keterbatasan ketahanan bahan pangan menjadi tantangan utama. “Kami mencoba salad, ada yang bisa tahan tapi sangat tergantung dari kualitas bahan baku,” tambahnya.
Untuk mengatasi masalah tersebut, BGN akan mengadopsi teknologi pangan canggih. “Insyaallah tahun depan kita akan coba pakai yang disebut dengan teknologi freeze drying, kemudian teknologi vakum, dan juga iradiasi,” katanya.(dr)

