Akademisi 13 Negara Belajar Ketahanan Keluarga di IPB University

Akademisi 13 Negara Belajar Ketahanan Keluarga di IPB University

Akademisi 13 Negara Belajar Ketahanan Keluarga di IPB University
Berita / Pendidikan

Agenda Summer Course on Family and Consumer Sciences 2025 mempertemukan mahasiswa dan akademisi dari 13 negara. Mereka datang ke Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University untuk belajar tentang ketahanan keluarga.

Tiga belas negara peserta meliputi Jepang, Malaysia, Yaman, Kenya, Rwanda, Nigeria, Malawi, Pakistan, Sudan, Mesir, Mozambik, Afghanistan, dan Indonesia. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan Fema bidang Sumberdaya, Kerjasama, dan Pengembangan  Prof Dodik Briawan. 

Dr Rojanah Kahar, narasumber dari Universiti Putra Malaysia menekankan pentingnya keluarga sebagai unit dasar yang harus dijaga secara legal dan emosional, “Keluarga harus tetap bersama, dengan cara apa pun. Penting bagi kita memiliki pernikahan keluarga yang sejati.”

Para peserta diajak membuat genogram dan melakukan simulasi skenario bersama dalam kelompok, membahas berbagai perspektif harmoni keluarga dalam konteks sosial dan budaya yang berbeda.

Selain itu, Prof Megawati Simanjuntak membawakan tema “Sustainability Starts at Home: Integrating Sustainable Practices in Family Life.” Guru Besar Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University itu menekankan pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter, mencegah stres, dan menerapkan gaya hidup berkelanjutan sejak dini. 

“Keluarga dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab sejak masa kanak-kanak,” ungkapnya,” tuturnya.

Narasumber lain, Dr Suwaibah binti Zakaria dari Universiti Malaysia Sabah juga menyoroti tantangan kesehatan mental dalam keluarga. Melihat antusias peserta, ia mengatakan, “Saya merasa mereka benar-benar mengikuti program ini, jadi saya berharap mereka bisa mendapat pelajaran dari program ini.”

Rangkaian kegiatan ini memperkaya wawasan peserta mengenai ketahanan keluarga dalam berbagai dimensi, mulai dari fondasi pernikahan, dukungan sosial, kesehatan mental, hingga praktik hidup berkelanjutan dalam lingkup keluarga. (*/dh)