Guru Besar IPB University Usung Bioinformatika Sistem untuk Pengobatan Presisi Berbasis Bahan Alam
Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas. Lebih dari 80 persen tumbuhan obat dunia ada di sini. Di kawasan hutan tropis seluas 143 juta hektare, terdapat sekitar 30.000 – 40.000 spesies tanaman obat, lebih dari 1.000 di antaranya memiliki potensi farmakologis.
Namun, dari sekitar 11.000 produk jamu yang terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), hanya 69 yang berstatus Obat Herbal Terstandar (OHT) dan 25 yang masuk kategori fitofarmaka. Fakta ini menunjukkan perlunya pendekatan ilmiah baru dalam pengembangan obat berbasis bahan alam.
Menanggapi hal ini, Prof Wisnu Ananta Kusuma, Guru Besar IPB University dari Sekolah Sains Data, Matematika, dan Informatika menekankan pentingnya pendekatan bioinformatika sistem dalam mendukung pengobatan presisi berbasis kekayaan hayati Indonesia.
“Bahan alam kita masih berhenti sebagai jamu dan belum naik kelas menjadi obat yang bisa diresepkan,” ujarnya kepada awak media saat konferensi pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Kamis (10/7) secara daring.
Menurutnya, tantangan terbesar dari bahan alam adalah sifatnya yang multikomponen dan multitarget. Ini berbeda dengan obat sintetis yang biasanya hanya memiliki satu senyawa aktif untuk satu target biologis.
“Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan holistik yang dapat dianalisis melalui bioinformatika sistem,” jelasnya.
Bioinformatika sistem merupakan pendekatan lintas disiplin yang menggabungkan biologi sistem, komputasi, matematika, statistika, serta teknologi omik seperti genomik, proteomik, dan metabolomik.
Dengan pemanfaatan algoritma komputasi, machine learning, dan deep learning, pendekatan ini memungkinkan pemetaan interaksi senyawa dan target biologis secara komprehensif. “Tujuannya adalah menghadirkan terapi yang lebih aman, efektif, dan sesuai dengan profil genetik masyarakat Indonesia,” tegas Prof Wisnu.
Untuk mendukung upaya ini, ia telah merancang enam strategi utama. Pertama, merumuskan kerangka ilmiah untuk pendekatan multikomponen-multitarget. Kedua, menyusun alur kerja in silico berbasis bioinformatika sistem. Ketiga, mengembangkan algoritma komputasi seperti Disassembly Greedy Modularity (DGM), Community Consideration Centrality (CCC), dan Skyline Query.
Keempat, membangun platform integratif bernama iPrime (Integrative Platform for Research in Indonesian Herbal Medicine Ecosystem) yang menjadi pusat data dan analitik bioinformatika. Kelima, memperkuat sumber daya manusia (SDM). Keenam, membentuk jejaring kolaborasi riset dengan institusi nasional.
Meski masih ada tantangan seperti keterbatasan data bioaktif, uji klinis, serta rendahnya keterlibatan industri, Prof Wisnu optimistis bahwa IPB University dapat menjadi pusat integrasi ilmu dan teknologi dalam pengembangan pengobatan presisi berbasis bahan alam.
“IPB University bisa menjadi pusat pengembangan obat berbahan alam berbasis bioinformatika sistem dan menjembatani alih hasil riset ke sektor industri,” ujarnya.
Pengobatan presisi berbasis bahan alam diyakini menjadi solusi holistik berbasis sains, teknologi, dan kekayaan hayati Indonesia yang bermanfaat bagi kesehatan nasional dan berdaya saing global.
“Integrasi ilmu pengetahuan, teknologi digital, dan kekayaan hayati menjadi kunci untuk menghadirkan terapi yang sesuai dengan keragaman genetik masyarakat Indonesia,” pungkasnya. (Fj)
