Guru Besar Fapet IPB University Tawarkan Tiga Strategi Menjawab Tantangan Produktivitas, Kualitas Daging, dan Emisi Lingkungan pada Peternakan Ruminansia
Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Prof Sri Suharti memaparkan strategi pengembangan ternak ruminansia pedaging berkelanjutan. Strategi ini difokuskan pada integrasi rekayasa nutrisi berbasis mikroba dan fitogenik aditif (phytogenic additives) untuk menjawab tantangan produktivitas, kualitas daging, dan emisi lingkungan pada sistem peternakan ruminansia di Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, selama lima tahun terakhir, Indonesia mengalami defisit suplai daging sapi dan kerbau. Pada 2024, defisit mencapai 263,42 ribu ton.
“Kondisi ini mendorong pemerintah melakukan impor sapi pedaging dan daging kerbau. Di sisi lain, meski populasi kambing dan domba tergolong tinggi, tetapi hingga kini belum dioptimalkan sebagai penyuplai utama daging nasional,” ucap Prof Sri dalam Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University melalui Zoom Meeting (10/7).
Prof Sri mengungkap sejumlah masalah utama peternakan sapi lokal. Salah satunya performa pertumbuhan yang masih rendah, yakni hanya 0,4–0,8 kg/ekor/hari akibat pakan berbasis limbah tinggi serat. Sebagai pembanding, sapi-sapi impor seperti Brahman Cross bisa mencapai 1,2 kg/ekor/hari.
Masalah lain yang menjadi perhatian adalah kualitas daging dan emisi gas metan dari fermentasi rumen. “Ternak ruminansia menyumbang sekitar 27 persen produksi metan global, dengan sapi perah dan sapi potong menyumbang sekitar 65 persen dari total metan enterik,” jelasnya.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Prof Sri menawarkan tiga strategi utama, yakni:
- Pengembangan Probiotik Mikroba Selulitik Lokal
Strategi pertama adalah mengembangkan isolat mikroba dari herbivora endemik Indonesia dan ternak lokal seperti sapi Madura dan kerbau. Isolat mikroba ini mampu meningkatkan kecernaan serat dari pakan berbasis limbah pertanian.
Contohnya, bakteri Enterococcus faecium yang diisolasi dari feses herbivora dan diuji in vitro menunjukkan peningkatan populasi bakteri rumen, kecernaan bahan kering, serta produksi volatile fatty acid (VFA). Pemberian probiotik pada sapi Madura meningkatkan bobot badan harian hingga 49 persen, dari 0,43 menjadi 0,64 kg per hari.
Untuk mengatasi masalah penyimpanan probiotik hidup, dilakukan teknik enkapsulasi. “Kapsulasi probiotik mempertahankan viabilitas mikroba selama 28 hari pada suhu ruang dan meningkatkan efisiensi degradasi protein serta produksi VFA,” imbuh Prof Sri.
- Pemanfaatan Aditif Fitogenik
Aditif Fitogenik merupakan zat tambahan dari tumbuhan alami yang meningkatkan kesehatan dan produktivitas ternak. Tanaman seperti lerak, kelor (Moringa), dan lamtoro mengandung saponin dan tanin yang terbukti dapat menekan produksi gas metan.
Ekstrak lerak, misalnya, mampu menurunkan emisi metan hingga 11 persen melalui mekanisme penghambatan protozoa rumen. Inovasi lain berupa herbal mineral blok dikembangkan sebagai suplemen praktis untuk ternak, yang berisi kombinasi mineral dan fitogenik aditif.
Namun, Prof Sri mengakui masih ada tantangan dalam produksi massal senyawa fitogenik aktif. “Proses ekstraksinya masih mahal dan rumit. Senyawanya juga mudah menguap, sehingga perlu proteksi melalui enkapsulasi berbasis protein dan karbohidrat,” jelasnya.
- Peningkatan Kualitas Daging Melalui Proteksi Asam Lemak Tidak Jenuh
Prof Sri menuturkan, permasalahan lain pada daging ruminansia adalah tingginya kadar asam lemak jenuh akibat biohidrogenasi di rumen. Untuk itu, dilakukan teknik proteksi menggunakan sabun kalsium dari minyak kedelai dan flaxseed untuk mempertahankan kandungan asam lemak tidak jenuh seperti linoleat.
“Dengan proteksi tersebut, daging yang dihasilkan menjadi lebih sehat dan memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar premium,” kata Prof Sri. (dr)

