Dokter IPB University: Peluk Pohon dalam Forest Bathing Bisa Redakan Stres

Dokter IPB University: Peluk Pohon dalam Forest Bathing Bisa Redakan Stres

Dokter IPB University Peluk Pohon dalam Forest Bathing Bisa Redakan Stres
Ilustrasi memeluk pohon (foto: freepik)
Riset dan Kepakaran

Belakangan beredar konten yang menyebutkan bahwa memeluk pohon dapat meredakan stres. Menanggapi hal tersebut, dr Widya Eka Nugraha, MSiMed, dosen Fakultas Kedokteran IPB University, mengatakan bahwa memeluk pohon bisa meredakan stres ringan jika dilakukan dalam konteks forest bathing atau terapi alam.

“Sebagian besar penelitian terkait pengaruh pohon terhadap stres dilakukan melalui setting forest bathing, bukan hanya dengan memeluk pohon semata,” ujar dr Widya. 

Sebaliknya, ia mengatakan, jika dilakukan di luar konteks forest bathing, hal tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut. “Belum cukup bukti ilmiah yang mendukung manfaat memeluk pohon secara terpisah dari praktik forest bathing,” tandasnya.

Forest bathing—juga dikenal dengan istilah sylvotherapy, tapa hijau, atau mandi hutan—merupakan aktivitas menyeluruh yang melibatkan berjalan di hutan, menghirup udara segar, menyentuh pohon, hingga melakukan meditasi kesadaran penuh (mindfulness)

“Kalau memeluk pohon dilakukan dalam konteks ini, banyak penelitian menunjukkan efek positif dalam meredakan stres,” tambahnya.

Dr Widya menyebutkan bahwa manfaat memeluk pohon dalam forest bathing dapat terjadi melalui beberapa mekanisme, antara lain stimulasi sensorik, pelepasan hormon oksitosin, dan paparan senyawa alami dari pepohonan seperti phytoncides. Aktivitas ini juga dapat memicu sistem saraf parasimpatis yang menimbulkan rasa rileks dan damai.

Namun, ia mengingatkan bahwa terapi ini bukanlah pengganti pengobatan utama bagi gangguan kejiwaan berat. “Forest bathing cocok untuk stres ringan hingga sedang, seperti kelelahan emosional, kecemasan ringan, atau burnout,” jelasnya.

Dr Widya juga menyampaikan bahwa durasi forest bathing dapat bervariasi, mulai dari 50 menit hingga 24 jam, tergantung pada kebutuhan dan kondisi individu. Ia menekankan pentingnya melihat aktivitas memeluk pohon sebagai bagian dari praktik menyeluruh, bukan tindakan tunggal.

Hingga kini, terdapat lebih dari 5.000 artikel terkait forest bathing atau shinrin yoku di Google Scholar, dengan penelitian utama berasal dari Jepang dan Korea Selatan.

Forest bathing dapat menjadi bagian dari pendekatan holistik menjaga kesehatan mental, bersama olahraga, meditasi, dan terapi profesional,” pungkasnya. (dh)