Bahaya Microsleep saat Berkendara, Dosen FK IPB University Ungkap Tanda-Tanda dan Cara Pencegahannya
Microsleep menjadi salah satu penyebab utama kecelakaan lalu lintas yang merenggut ribuan nyawa setiap tahun. Pakar Ilmu Fisiologi dari Fakultas Kedokteran IPB University, dr Samuel Stemi, MBiomed, menjelaskan bahwa kondisi ini sangat berbahaya karena terjadi secara tiba-tiba dan tidak disadari oleh pengemudi.
“Microsleep adalah tidur yang sangat singkat, durasinya hanya dalam hitungan detik, bisa 1 sampai 30 detik. Terjadi secara tiba-tiba, tanpa kita inginkan, dan sebetulnya tidak disengaja,” jelas dr Samuel.
Ia menegaskan bahwa kondisi ini sangat berisiko jika terjadi saat berkendara karena dapat berulang dan menyebabkan hilangnya kendali kendaraan. “Keputusan yang kita ambil setelahnya, apakah mau menepi sejenak dan benar-benar tidur dahulu, atau tetap ngotot melanjutkan perjalanan, itu krusial,” ujarnya.
Menurut data dari American Automobile Association (AAA) Foundation for Traffic Safety, sebanyak 328.000 kecelakaan lalu lintas setiap tahun diakibatkan oleh pengemudi yang mengantuk, termasuk karena microsleep. Dari jumlah tersebut, 109.000 menyebabkan cedera dan 6.400 berujung kematian.
Mengemudi lebih dari 20 jam tanpa tidur disebut setara dengan mengemudi dalam kondisi kadar alkohol darah atau Blood Alcohol Concentration (BAC) 0,08 persen, yang secara signifikan mengganggu reaksi, koordinasi, penilaian, serta fungsi kognitif.
Ia mengungkapkan lima penyebab utama terjadinya microsleep, yaitu kurang tidur (kurang dari tujuh jam), kualitas tidur yang buruk seperti pada penderita sleep apnea, aktivitas monoton seperti berkendara di jalan lurus jarak jauh, konsumsi obat-obatan seperti antihistamin atau obat flu yang menyebabkan kantuk, serta konsumsi alkohol dan kondisi tubuh yang kelelahan.
dr Samuel juga mengingatkan agar pengemudi tidak mengabaikan tanda-tanda kelelahan ekstrem seperti mata terasa berat, sulit mempertahankan posisi leher dan kepala, posisi duduk berubah menjadi bungkuk atau kepala menunduk, tidak merespons pembicaraan, kehilangan ingatan terhadap kejadian satu hingga dua menit sebelumnya, serta menjatuhkan barang tanpa disadari.
Untuk mencegah terjadinya microsleep saat berkendara, dr Samuel menyarankan langkah pencegahan yang harus dilakukan sejak sebelum berangkat. Di antaranya adalah tidur cukup minimal tujuh jam, memastikan kondisi tubuh fit, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, merencanakan rute dan waktu istirahat, mengajak teman untuk bergantian menyetir, serta menghindari alkohol dan obat yang menyebabkan kantuk.
Saat berada di perjalanan, pengemudi disarankan untuk beristirahat setiap satu hingga dua jam di tempat aman, mempertahankan posisi duduk yang tegak dan nyaman, cukup minum air putih, menghindari kebosanan dengan mendengarkan musik atau podcast, serta segera berhenti jika muncul tanda-tanda microsleep seperti mata terasa berat atau sering menguap.
“Jangan memaksakan diri. Mengantuk dan menepi sejenak memang akan memperlambat perjalanan, tetapi itu adalah pilihan bijaksana demi keselamatan,” tegas dr Samuel.
Ia juga menambahkan beberapa tips tambahan, seperti melakukan peregangan saat berhenti, memastikan pencahayaan cukup saat berkendara malam hari, menjaga jarak aman dengan kendaraan lain, serta menghindari stimulus berlebihan yang dapat melelahkan mata. (Fj)
