Perjalanan Panjang Tim IPB Bawa Jurnal Pengelolaan Hasil Perikanan Indonesia Terindeks Scopus

Perjalanan Panjang Tim IPB Bawa Jurnal Pengelolaan Hasil Perikanan Indonesia Terindeks Scopus

Perjalanan Panjang Tim IPB Bawa Jurnal Pengelolaan Hasil Perikanan Indonesia Terindeks Scopus
Riset dan Kepakaran

Perjalanan panjang dilalui oleh Prof Nurjanah, Chief Editor Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (JPHPI) dan tim, dalam mengelola jurnal hingga berhasil terindeks Scopus. Upaya pengajuan jurnal ke Scopus telah dimulai sejak tahun 2017, namun masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal ketelitian dan kualitas penulisan.

Pada September 2023, Prof Nurjanah bersama timnya kembali melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kualitas artikel, hingga akhirnya berhasil men-submit ulang JPHPI dan diterima oleh Scopus.

“Semua ini bisa dicapai kalau kita bekerja sama dengan serius. Saya sendiri pernah menyusun kata demi kata dengan sangat hati-hati, bahkan sampai minta doa agar jurnal ini bisa lolos dan diakui secara internasional,” ujarnya.

Salah satu tantangan utama menurutnya adalah penggunaan bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan struktur Subjek–Predikat–Objek (SPO). Hal ini berdampak saat terjemahan ke Bahasa Inggris menjadi rancu dan kehilangan makna. Ia menekankan pentingnya merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan kaidah bahasa yang benar agar struktur kalimat lebih rapi dan ilmiah.

JPHPI sebelumnya dikenal sebagai Buletin Teknologi Hasil Perikanan, didirikan pada tahun 1996 oleh Departemen Teknologi Hasil Perikanan IPB University. Sejak tahun 2010, jurnal ini dikelola bersama Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI).

Menurut Prof Nurjanah, riset-riset yang diterbitkan dalam JPHPI sangat strategis dan relevan, mulai dari hulu hingga hilir. Topik meliputi pascapanen hasil perairan yang mencakup karakteristik (identifikasi, komposisi dan mutu termasuk keamanan), penangan dan transportasi hasil perairan, teknologi/proses pengolahan,  bioteknologi hasil perairan). 

Jurnal-jurnal yang diterbitkan juga berkaitan dengan komoditas hasil perairan baik flora maupun fauna dari ukuran mikro dan makro yang diperoleh perairan tawar dan laut. Selain itu, juga proses dari hulu sampai hilir, pengaruh budi daya terhadap mutu atau komposisi bahan, hingga pengaruh umur panen, cara panen, dan jenis pakan terhadap tekstur atau komposisi.

Topik seperti protein fungsional, antioksidan, dan antimikroba menjadi fokus yang banyak diminati. Ia menekankan bahwa penyusunan artikel harus dilakukan secara sistematis dan mendalam agar tidak ditolak oleh jurnal bereputasi.

Saat ini, penilaian jurnal didasarkan pada indeks Scientific Journal Rankings (SJR) dan kuartil internasional (Q1–Q4). Di Indonesia, sistem akreditasi seperti Science and Technology Index (Sinta) 1 dan Sinta 2 juga menjadi indikator kualitas jurnal. Tim editor yang kuat, turut mendukung pencapaian ini.

JPHPI pernah mengalami masa sulit, termasuk sempat tidak terbit pada tahun 2008. Namun, pada 2009, jurnal ini kembali aktif dengan dukungan dana dan semangat tim yang tinggi. 

Kini, JPHPI telah masuk Quartile 3 (Q3) secara internasional dan menjalin kerja sama dengan berbagai stakeholder, penulis luar negeri, serta mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

Ke depan, Prof Nurjanah menargetkan JPHPI untuk terus mengangkat potensi dari Sabang hingga Merauke, memperkuat jaringan internasional, dan menjaga keseimbangan komposisi editor serta reviewer agar tidak melanggar kebijakan dari lembaga pemeringkat internasional. (dh)