Panen Raya, Kopi Konservasi Cibulao Binaan IPB University Siap Ekspor ke Aljazair
Panen Raya Kopi Konservasi di Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, menjadi saksi sejarah ekspor kopi hasil petani desa ini ke mancanegara. Pada acara panen raya (18/6), ditandatangani kerja sama bersama Messode Bourasse Algeria untuk ekspor kopi arabika ke Aljazair.
Cibulao, sebuah kawasan yang dulunya belum banyak dikenal, kini menjelma menjadi salah satu sentra kopi bergengsi di Indonesia. Keberhasilan ini tidak lepas dari kolaborasi yang erat antara masyarakat setempat, Kelompok Tani Hutan (KTH) Cibulao dan IPB University, khususnya melalui intervensi jangka panjang dari Pusat Pengkajian dan Pengembangan Wilayah (P4W) IPB University.
Rektor IPB University, Prof Arif Satria mengatakan, transformasi Cibulao tidak hanya menghasilkan produk kopi berkualitas tinggi, tetapi juga menciptakan dampak sosial yang signifikan. Keberhasilan budi daya kopi turut mendorong perbaikan ekonomi warga. Peningkatan taraf hidup ini kemudian berkontribusi langsung terhadap aspek lain, seperti pendidikan.
“Dulu, sekolah di kawasan ini masih sangat terbatas. Sekarang jumlah sekolah bertambah karena ekonomi masyarakat juga membaik. Ini semua berawal dari keberhasilan budi daya kopi yang didampingi oleh IPB University,” ujar Rektor IPB University.
Ia menambahkan, intervensi yang dimulai lebih dari 11 tahun lalu oleh tim P4W kini mulai menunjukkan hasil nyata. Cibulao menjadi contoh nyata bagaimana pendekatan akademis dan pendampingan lapangan dapat membawa perubahan sosial yang masif.
Menurutnya, KTH Cibulao kini tidak hanya dikenal sebagai produsen kopi unggulan, tetapi juga sebagai contoh sukses program pembangunan berkelanjutan. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan terus meningkat, seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan kualitas hidup yang lebih baik.
“Ini adalah salah satu dari sekian program IPB University berhasil meningkatkan kualitas hidup masyarakat, baik dari sisi ekonomi, pendidikan, maupun kesadaran lingkungan. Yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga keberlanjutan kawasan ini untuk masa depan,” tandasnya.
Prof Arif, menjelaskan model community based collaborative management atau pengelolaan kolaboratif berbasis komunitas di Cibulao membuahkan hasil. “Masyarakat menjadi ujung tombak pengelolaan kawasan. Mereka adalah subjek dalam mengelola sumber daya khususnya kopi,” ujar Prof Arif.
Saat ini, nilai ekonomi dari produk kopi Cibulao berhasil menarik perhatian pembeli internasional, seperti dari Aljazair, melalui dukungan PT Astra International.
Wakil Rektor IPB University bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Agromaritim, Prof Ernan Rustiadi, menyampaikan, sejak 2014, IPB University sudah mendampingi masyarakat di Cibulao.
“Tadi di tempat panen, Kang Yono (perwakilan KTH Cibulao) bercerita bagaimana masyarakat merintis kebun kopi, bertransformasi dari ‘perambah’ hutan beralih menjadi petani kopi konservasi. Dari seluas dua hektare, sekarang sudah lebih dari 120 hektare,” tuturnya.
Prof Ernan juga melihat bahwa ekonomi masyarakat terlihat dari diversifikasi usaha yang dilakukan oleh generasi mudanya. Mulai dari menjual ceri kopi, green bean, sampai kopi bubuk. Bahkan sebagian di antaranya ada yang menjadi barista dan mengelola kafe.
“Dengan bantuan Astra, kita akan segera ekspor. Unit Wakaf dan Dana Sosial IPB University juga akan memberikan bantuan wakaf produktif,” tutupnya.
Dalam momen itu, turut diresmikan monumen IPB dan penandatangan kerja sama antara IPB University dengan Kementerian Kehutanan, serta Unit Wakaf dan Dana Sosial IPB dengan Koperasi IKA. (AS)

