Guru Besar IPB University Tawarkan Konsep Sustainable AI untuk Ketahanan Pangan
Guru Besar IPB University bidang Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI), Prof Dr Yeni Herdiyeni menegaskan pentingnya penerapan pendekatan Sustainable AI dalam menghadapi berbagai tantangan di sektor ketahanan pangan dan agromaritim Indonesia.
Pada Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Kamis (26/6), Prof Yeni mengatakan, Sustainable AI dibutuhkan untuk menjawab sejumlah permasalahan kompleks yang mengancam sektor pangan nasional. Dalam paparannya, ia menyoroti produksi padi dan cabai yang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.
“Kita melihat bahwa dari 2018 sampai 2024, produksi padi nasional terus menurun, padahal dari sisi teknologi sudah semakin maju. Di sektor hortikultura, produksi cabai nasional turun lebih dari 120 ribu ton antara 2017 hingga 2021,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tantangan digitalisasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang belum merata. “Banyak UMKM yang masih memiliki tingkat digitalisasi yang masih rendah. Hal ini merupakan ancaman bagi perekonomian karena UMKM adalah jantung perekonomian di Indonesia,” tambahnya.
Untuk menjawab sejumlah tantangan tersebut, Prof Yeni memperkenalkan konsep Sustainable AI atau kecerdasan buatan berkelanjutan. “Dalam membangun teknologi AI, kita perlu memperhatikan dua aspek. Bukan hanya faktor teknologi, tetapi juga faktor keseimbangan manusia dan alam,” jelasnya.
Lebih jauh, ia memaparkan bahwa konsep ini mencakup dua pendekatan utama: AI for Sustainability (pemanfaatan AI untuk keberlanjutan) dan Sustainability of AI (pengembangan AI yang hemat energi, inklusif, dan beretika).
Prof Yeni juga memaparkan sejumlah inovasi konkret yang telah dikembangkan. Di bidang pertanian, ia dan tim menciptakan aplikasi berbasis computer vision dan deep learning untuk deteksi dini begomovirus, penyakit yang menyerang tanaman cabai. “Teknologi ini membantu petani melakukan deteksi secara cepat dan mengurangi ketergantungan pada pestisida,” tuturnya.
Bersama Pusat Penelitian Karet di Palembang, Prof Yeni dan tim juga mengembangkan teknologi pemantauan penyakit gugur daun akibat jamur Pestalotiopsis pada tanaman karet menggunakan drone dan data satelit.
Di sektor perikanan, mereka merancang model AI untuk memprediksi fenomena upwelling. Teknologi ini membantu nelayan menghemat bahan bakar serta mempermudah estimasi biaya dan waktu penangkapan.
Untuk sektor UMKM, timnya bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) mengembangkan model asesmen digitalisasi. Hasil riset ini membantu BI dalam menyusun kebijakan transformasi digital yang lebih tepat sasaran. Prof Yeni juga memaparkan pengembangan konsep smart village yang mengintegrasikan ilmu sosial, data, dan infrastruktur desa.
Di akhir paparannya, Prof Yeni menegaskan, “Teknologi AI bukan hanya bicara teknologi, tetapi juga bicara terkait dengan manusia dan lingkungan. Oleh karena itu, marilah kita membangun AI yang bisa memberdayakan manusia dan juga lingkungan,” tutup Prof Yeni. (Fj)
