Guru Besar IPB University Soroti Peran Biokimia Pertanian untuk Tingkatkan Kualitas Tanaman Obat
Guru Besar IPB University, Prof Waras Nurcholis, menekankan pentingnya peran biokimia pertanian dalam meningkatkan kualitas dan khasiat tanaman obat. Hal tersebut disampaikan dalam Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University yang digelar pada Kamis (12/6) melalui Zoom Meeting.
“Untuk memastikan tanaman obat dapat digunakan secara luas dalam industri kesehatan, diperlukan jaminan terhadap kualitas, khasiat, dan keamanannya. Pendekatan ilmiah yang terstandar dan berkelanjutan melalui biokimia pertanian menjadi sangat penting,” ujarnya.
Prof Waras menjelaskan bahwa biokimia pertanian merupakan ilmu yang mempelajari proses kimia dalam organisme tanaman, terutama terkait pembentukan metabolit sekunder yang memiliki khasiat obat.
Pendekatan ini, tuturnya, memberikan pemahaman mendalam tentang biosintesis senyawa aktif, interaksi antarkomponen bioaktif, serta pengaruh lingkungan terhadap ekspresi genetik yang menghasilkan senyawa tersebut.
“Keilmuan biokimia pertanian merupakan keilmuan yang baru sehingga masih sedikit digunakan di Indonesia. Kita perlu belajar kepada China dan India yang sudah lebih maju dalam hal produksi bahan baku obat herbal melalui aplikasi biokimia pertanian,” papar Prof Waras.
Sebagai dosen Departemen Biokimia IPB University, ia mengungkapkan bahwa saat ini industri dalam negeri masih banyak yang impor dari beberapa negara. Kurkuminoid ekstrak misalnya, selama ini Indonesia masih mengimpor dari India.
Menurutnya, pendekatan biokimia pertanian ini strategis dalam memilih genotipe unggul berdasarkan kandungan senyawa bioaktif, baik melalui eksplorasi genetik maupun teknik mutasi terinduksi.
Dalam penelitiannya terhadap tanaman obat seperti temulawak, kapulaga, dan kumis kucing, seleksi biokimia terbukti efektif menghasilkan tanaman dengan potensi farmakologis tinggi secara konsisten.
Dari sisi budi daya, biokimia pertanian juga memungkinkan optimalisasi faktor agronomis yang memengaruhi biosintesis senyawa aktif. Penggunaan naungan serta pupuk seperti NPK diketahui mampu meningkatkan kadar senyawa aktif.
“Hasil penelitian kami pada temulawak, perlakuan ini meningkatkan kandungan polifenol dan kurkuminoid yang berfungsi sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan imunomodulator. Penerapan pupuk organik dan kompos dari limbah tanaman juga berkontribusi dalam meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan produksi,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Prof Waras menyebutkan bahwa pendekatan mutasi seperti iradiasi sinar gamma dan induksi poliploidi telah berhasil meningkatkan kandungan metabolit sekunder pada tanaman seperti krokot dan jengger ayam. Teknik ini menghasilkan genotipe mutan baru dengan kandungan fenolik, flavonoid, dan aktivitas antioksidan yang lebih tinggi, yang penting untuk pengembangan fitofarmaka, kosmetik herbal, dan hortikultura fungsional.
Ia juga menegaskan bahwa manfaat biokimia pertanian tak hanya pada peningkatan kualitas bahan baku, tetapi juga dalam menjaga konsistensi dan standardisasi produk. Dalam menghadapi tingginya permintaan global terhadap produk kesehatan berbasis alam, Indonesia dituntut mampu menyediakan bahan baku yang memenuhi standar internasional.
“Perlu integrasi antara biokimia pertanian dengan teknologi omik seperti metabolomik, transkriptomik, dan genomik untuk mendukung seleksi, validasi, dan formulasi produk berbasis tanaman obat,” katanya.
Prof Waras menutup dengan menyatakan bahwa pengembangan industri obat bahan alam nasional membutuhkan sinergi antara riset ilmiah, dunia industri, dan kebijakan pemerintah. Ia menekankan pentingnya regulasi yang mendukung, investasi riset, dan pemberdayaan petani serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai bagian dari ekosistem industri ini.
Dengan kekayaan sumber daya genetik dan pengetahuan etnofarmakologi, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat unggulan produksi dan ekspor bahan baku obat alami. Inovasi berbasis biokimia pertanian diyakini menjadi pendorong utama kemandirian dan ketahanan nasional di bidang kesehatan berbasis alam. (dh)

