Guru Besar IPB University Kembangkan Irigasi Bawah Permukaan untuk Tingkatkan Efisiensi Air

Guru Besar IPB University Kembangkan Irigasi Bawah Permukaan untuk Tingkatkan Efisiensi Air

Guru Besar IPB University Kembangkan Irigasi Bawah Permukaan untuk Tingkatkan Efisiensi Air
Riset dan Kepakaran

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian IPB University, Prof Satyanto Krido Saptomo, mengembangkan teknologi irigasi bawah permukaan sebagai solusi efisien dan berkelanjutan untuk pertanian di Indonesia. Teknologi ini diklaim mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air sekaligus mendongkrak produktivitas tanaman.

Dalam Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University (26/6), Prof Satyanto menjelaskan bahwa sistem irigasi dan drainase bawah permukaan mampu menjaga kelembapan tanah secara optimal tanpa menyebabkan genangan di permukaan lahan.

“Teknologi ini mengalirkan dan mengontrol air di bawah permukaan tanah, berbeda dengan irigasi konvensional yang mengairi lahan melalui permukaan,” jelasnya.

“Hasil uji lapangan di Stasiun Penelitian Padi Sukamandi, Subang, menunjukkan bahwa sistem ini mampu menurunkan muka air tanah, mempercepat pengeringan lahan, dan meningkatkan produktivitas padi hingga 13,36 persen,” imbuh Prof Satyanto.

Ia menambahkan, efisiensi penggunaan air meningkat sebesar 20 persen pada aspek evapotranspirasi (gabungan penguapan air dari tanah dan pelepasan uap air dari tanaman), serta 14 persen secara keseluruhan.

Dalam eksperimen lainnya, penggunaan sheet-pipe pada sistem ini mampu mengurangi kebutuhan air irigasi hingga 50,5 persen, meskipun terdapat penurunan hasil panen sebesar 15,5–18,6 persen. Namun demikian, efisiensi penggunaan air tercatat meningkat hingga 70,8 persen, dengan produktivitas air mencapai 3,2–10,4 persen.

Teknologi ini juga terintegrasi dengan sistem Internet of Things (IoT), dilengkapi dengan sensor muka air, katup solenoid, dan Remote Telemetry and Control Unit (RTCU) yang memungkinkan pemantauan dan pengaturan tinggi muka air secara real-time melalui dashboard berbasis cloud.

Prof Satyanto mengatakan, pengembangan sistem ini memberikan kontribusi signifikan terhadap efisiensi air, peningkatan produktivitas, dan keberlanjutan lingkungan. Meskipun masih menghadapi tantangan terkait biaya dan instalasi, upaya perbaikan terus dilakukan melalui pengembangan metode instalasi manual dan modifikasi material agar lebih terjangkau dan scalable.

“Dengan pendekatan multidisiplin yang melibatkan keteknikan, agronomi, dan ekologi, teknologi ini diharapkan dapat menjadi solusi strategis bagi pertanian yang tangguh, adaptif, dan hemat air di masa depan,” pungkasnya.