Dua Profesor IPB University Berbagi Inovasi di Majelis Dewan Guru Besar PNTBH

Dua Profesor IPB University Berbagi Inovasi di Majelis Dewan Guru Besar PNTBH

Dua Profesor IPB University Berbagi Inovasi di Majelis Dewan Guru Besar PNTBH
Berita

Dewan Guru Besar (DGB) IPB University bersama Majelis Dewan Guru Besar Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) menggelar Kuliah Bestaru dengan tema utama “Inovasi dan Perguruan Tinggi untuk Pembangunan Pedesaan: Dari Desa Menuju Indonesia Emas”, (12/6). 

Acara yang digelar secara daring itu menghadirkan dua guru besar IPB University dari Fakultas Ekologi Manusia (Fema). Adalah Prof Sofyan Sjaf dan Prof Lala M Kolopaking.

Dalam pemaparannya, Prof Sofyan menuturkan bahwa Indonesia dibangun dari kumpulan desa dengan kekayaan sumber daya agraris dan maritim. Sebanyak 89,81 persen (74.961) adalah desa dan 10,19 persen (8.506) adalah kelurahan.

“Desa-desa di Indonesia diidentik dengan kantong kemiskinan dan minimnya sumber daya manusia. Untuk melepaskan Indonesia dari kemiskinan, maka dipahami struktur di desa,” tuturnya.

Prof Sofyan kemudian mengungkap fakta pembangunan pedesaan di Indonesia, sebagaimana ia tulis dalam buku Involusi Republik Merdesa. Ia mengatakan, desa adalah tempat atau lokus produksi dan reproduksi pangan serta pertanian sebagai basis ekonomi rumah tangga. Namun, kenyataannya tidak pernah ditata kelola dengan baik.

“Fakta lainnya, tenaga kerja muda produktif di pedesaan tidak tertarik pertanian dan bermigrasi ke kota. Alokasi penggunaan dana desa tidak tepat sasaran,” kata Dekan Fema IPB University ini. 

“Kemudian, tidak adanya data presisi. Tanpa ada data yang akurat, perencanaan, dan implementasi gagal dan terjadinya konflik kepentingan elit (terkait bantuan sosial),” tegasnya lagi.

Sebagai solusi, Prof Sofyan menginisiasi Data Desa Presisi sebagai inovasi untuk keadilan pembangunan pedesaan. Data Desa Presisi adalah data yang memiliki tingkat akurasi dan ketepatan tinggi untuk memberikan gambaran kondisi aktual desa/kelurahan yang sesungguhnya. 

“Data ini diambil, divalidasi, dan diverifikasi oleh warga desa dibantu oleh pihak luar desa, yaitu perguruan tinggi dengan biaya yang relatif murah. Data Desa Presisi mengakhiri polemik data, menampilkan kondisi terkini desa/kelurahan, dapat menghitung cepat ukuran ukuran pembangunan, dan waktu update data relatif cepat karena melibatkan warga desa,” ujarnya.

Sementara itu, Prof Lala M Kolopaking membahas tentang kemitraan usaha dalam peningkatan ekonomi desa sebagai inovasi sosial digital. Prof Lala mengungkapkan bahwa kesenjangan digital di pedesaan masih terjadi. Namun, perlahan akses terhadap konektivitas internet di desa semakin membaik.

Menurutnya, penyelesaian kesenjangan digital tidak cukup sekadar menangani kesenjangan digital inequality. Karena itu, ia menekankan perlunya inovasi sosial digital (ISD).

“ISD adalah proses pengembangan dan penerapan teknologi digital untuk mengatasi masalah sosial kompleks yang sulit diselesaikan tanpa bantuan teknologi digital,” paparnya. 

Ia menjelaskan, tujuan utama ISD untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui solusi inovatif yang efektif dan berkelanjutan. ISD dapat menyelesaikan masalah seperti langkah adaptasi perubahan iklim dan mendorong Sustainable Development Goals (SDGs) lebih baik. 

“Saya pikir dengan pendekatan ISD akan punya hal-hal baru yang inovatif,” katanya.

Kemudian, Prof Lala melanjutkan, ISD dapat mengubah perilaku ekonomi konsumtif tanpa diimbangi perilaku produktif, penyelesaian ketimpangan sosial dan kemiskinan, serta penguatan ekonomi dan kebudayaan lokal. (MHT)