Dekan Fakultas Kedokteran IPB University: Desa Binaan dan Ekosistem Agromaritim Jadi Kekuatan Pendidikan Kedokteran Berbasis Komunitas
Fakultas Kedokteran (FK) IPB University menegaskan komitmennya untuk mengembangkan model pendidikan kedokteran berbasis komunitas, khususnya di wilayah pedesaan (rural).
Melalui pendekatan ini, IPB University berupaya mencetak dokter-dokter yang tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga memiliki empati dan komitmen tinggi terhadap masyarakat pedesaan.
Dekan FK IPB University, Dr dr Ivan Rizal Sini GDRM, MMIS, FRANZCOG, SpOG menyatakan, pendidikan kedokteran di rural area menjadi kebutuhan mendesak bagi Indonesia. Hal ini berkaitan erat dengan kondisi geografis negara yang luas, keberagaman sosial ekonomi, serta tantangan pemerataan layanan kesehatan.
“Pendidikan kedokteran di Indonesia perlu menyeimbangkan antara kedalaman ilmu medik dan empati terhadap kondisi sosial masyarakat. Mindset empatik terhadap komunitas harus dibentuk sejak awal pendidikan kedokteran,” ujarnya.
Dr Ivan menjelaskan bahwa distribusi dokter ke wilayah-wilayah non-perkotaan masih sangat bergantung pada ‘passion’ dan ‘commitment’ para lulusan. Untuk itu, pendidikan berbasis kedokteran komunitas perlu mendapat dukungan penuh dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, akademisi, dan masyarakat.
Ia menekankan pentingnya infrastruktur pendukung sebagai prasyarat perubahan mindset. “Kita perlu menciptakan ekosistem pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa mengalami langsung tantangan di pedesaan. Di situlah justru peluang dan nilai tambah besar berada,” ungkapnya.
Keberadaan lebih dari 6.000 desa binaan serta kekuatan dalam ekosistem agromaritim menjadi keunggulan tersendiri bagi IPB University dalam mengembangkan pendidikan kedokteran berbasis rural. Dengan pendekatan transformatif yang telah terbukti di beberapa negara, FK IPB University telah mulai mengadopsi model pembelajaran komunitas sejak awal pendiriannya.
“Kami belajar dari model pendidikan kedokteran komunitas yang sukses di University of Minnesota (AS) dan Flinders University (Australia), di mana paparan terhadap permasalahan klinis di komunitas mampu meningkatkan kompetensi baik di bidang umum maupun spesialistik,” tambahnya.
Paparan terhadap kearifan lokal juga menjadi kekuatan tersendiri. FK IPB University, misalnya, memberikan pembelajaran tentang tanaman obat dan herbal yang berbasis bukti ilmiah, agar para lulusan mampu memberi edukasi yang tepat kepada masyarakat dalam memanfaatkan kekayaan hayati lokal.
Namun, Dr Ivan tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan yang dihadapi. Salah satu hambatan terbesar, katanya, adalah anggapan bahwa menjadi dokter di daerah adalah pilihan yang kurang ideal.
“Banyak yang masih berpikir bahwa akses ilmu dan kesejahteraan akan terbatas jika bekerja di pedesaan. Padahal, justru di sanalah terbentang ‘laut biru’ di mana kesempatan yang sangat luas tanpa banyak kompetisi seperti penerapan praktik di perkotaan,” jelasnya.
Untuk memperkuat langkah ini, IPB University telah menjalin kerja sama strategis dengan Flinders University Australia. Kolaborasi ini meliputi pertukaran mahasiswa dan dosen, kunjungan observasi, serta beasiswa untuk studi lanjut S2 dan S3, khususnya dalam bidang kedokteran keluarga dan layanan primer.
“Kemitraan ini akan membuka jalan menuju standardisasi internasional dan menjadi bagian dari roadmap internasional FK IPB University. Kami ingin para mahasiswa dan dosen kami mendapatkan pengalaman langsung dalam sistem kedokteran berbasis komunitas di Australia, khususnya melalui program-program yang telah sukses diterapkan di Northern Territory dan South Australia,” ucapnya. (dr)
